masukkan iklan disini
Sumber gambar : Detik.com
TRIBUANANEWS.COM | Banjarnegara - Kondisi jembatan di jalur alternatif yang menghubungkan dua Kabupaten Banjarnegara-Wonosobo terlihat memprihatinkan. Apalagi saat hujan turun, arus Sungai Tulis yang berada di bawah jembatan tersebut meluap dan deras.
Belum lagi jembatan yang terbuat dari bambu ini tidak terlalu tinggi. Hanya tumpukan batu sungai yang digunakan sebagai penyangga utama jembatan itu. Kondisi ini membuat warga yang melintas di jembatan tersebut waswas, terutama saat turun hujan.
"Kalau hujan air sungai meluap dan deras. Ini yang membuat warga takut saat melintas di jembatan ini," kata Pardi, warga Desa Larangan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Rabu (27/11).
Jembatan dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 1,5 meter ini berada di Desa Larangan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, dan Desa Jebengplampitan, Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo. Warga memanfaatkan untuk akses ekonomi dan pendidikan.
Menurut Pardi, siswa sekolah asal Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo, yang bersekolah di SMA Sigaluh dan SMK Panca Bhakti Banjarnegara sebagian besar memilih jalur alternatif ini meski saat turun hujan kondisinya lebih berbahaya.
"Selain orang ke pasar, banyak siswa sekolah yang lewat jalur alternatif ini. Jalur lain yang paling dekat adalah jembatan Sempol, tetapi harus memutar 10 kilometer lebih. Makanya banyak yang memilih lewat jembatan ini meski berbahaya," kata dia.
Warga Desa Jebengplampitan, Lukman Saadilah, mengatakan jembatan dari bambu ini dibuat setelah jembatan gantung rusak diterjang arus sungai 5 tahun lalu.
"Sebenarnya jembatan dari bambu ini sudah pernah diperbaiki. Tetapi memasuki musim hujan memang belum dikuatkan lagi," terangnya.(hrm)


