TRIBUANANEWS.COM | Banda Aceh - Kordinator Kemanusiaan Yayasan Geutanyoe Nasruddin merasa aneh atas kebijakan pemindahan Pengungsi Rohingya dari Aceh ke Sumatra Utara.
"Semenjak tahun 2009 sampai saat ini kebijakan seperti ini terus dilakukan padahal kalau kita liat fasilitas yang di bangun oleh LSM atau INGO dicamp tersebut cukup memadai," ujar Nastuddin melalui pers rilisnya, Rabu (28/4).
Akan tetapi setelah fasilitas di bangun lalu lahir kebijakan pengungsi di pindah keluar daerah dan bangunan yang di bangun dari sumbangan donatur menjadi sia sia.
"Selain itu juga kalau di lihat dari latar belakang makanan, pergaulan juga hampir sama dengan masyarakat Aceh, begitupun perlakuan masyarakat lokal terhadap pengungsi juga sangat manusiawi," tuturnya.
Bahkan setiap hari anak anak Aceh ikut bermain bersama dengan anak pengungsi di camp, ini membuktikan bahwamasyrakat Aceh memoerlakukan mereka seperti saudaranya sendiri.
"Begitu juga dalam hal penanganan pengungsi, berbagai elemen baik lokal maupun internasional terlibat saling bahu membahu membantu pengungsi selama dicamp," ungkapnya.
Akan tetapi Nasruddin merasa aneh, kok bisa ada kebijakan pemidahan pengungsi Rohingya dari BLK Kandang Lhukseumawe ke Sumatera Utara , padahal selama ini berbagai pujian datang baik dari pemerintah maupun lembaga sosial bahwa penanangan pengungsi di Aceh sangat baik.
"Kalau lah alasannya karena di Aceh tidak aman banyak pengungsi yang lari, apakah ketika di Medan nantinya siapa yang menjamin mereka tidak lari ke Malaysia," tanyanya.
"Jangam sampai pemindahan pengungsi ini terkesan akibat ada proyek, ini sangat tidak.manusiawi dan bertentangan dengan misi kemanusiaan," pungkasnya.
Maka oleh karena hal tersebut, Nasruddin meminta kepada pemerintah maupun lembaga internasional untuk meninjau kembali kebijakan ini, kalau tidak kedepan bila datang lagi pengungsi ke Aceh lansung saja di bawa ke Medan.
"Karena dikhawatirkan bila ditampung di Aceh kejadian serupa akan terulang kembali dan ini berdampak terhadap bantuan yang diberikan oleh lembaga kemanusiaan akan menjadi sia sia," imbuhnya.*
Editor : Syahrudin AP

