![]() |
| Hj. Ani Rukmini, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi |
“Sebenarnya banyak potensi potensi yang sifatnya lokal, seperti air mineral, konveksi atau yang sifatnya tumbuh disitu seperti di Muara Gembong ada mangrovenya bisa dikelola menjadi dodol atau terasi. Yang jelas banyak masyarakat yang kalau digerakan potensinya keluar, namun masalahnya selama ini terkendala pada distribusi pemasarannya,” kata Ani Rukmini, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi, Selasa (23/2/2021).
Kewenangan ini disahkan melalui UU Desa tahun 2014.
Dengan diberikannya kewenangan untuk mengatur wilayahnya sendiri, desa saat ini
sudah dapat mengembangkan ekonominya secara mandiri.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk
mengembangkan ekonomi desa. Salah satunya adalah mengembangkan aset desa
sebagai potensi. Desa memiliki aset-aset asli desa yang dapat berbentuk tanah,
kolam, sumber mata air ataupun sumber daya alam lainnya.
Dalam mengelola aset, desa dapat mendirikan Badan
Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai badan pengembangan usaha dan juga pembangunan
desa. Dengan kata lain, Bumdes dapat menggali potensi desa dan memanfaatkannya
menjadi bentuk usaha yang nanti akan menjadi pendapatan asli desa.
Setiap desa tentu memiliki potensi, ini adalah
sebuah gambaran yang ada di seluruh desa yang ada di negeri kita tercinta ini.
Beragam potensi ada di setiap desa diseluruh penjuru negeri ini. Baik itu
potensi alam maupun potensi sosial dari masyarakat yang tinggal di desa ini.
Tidak mungkin suatu desa tidak memiliki potensi sama
sekali. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah setiap potensi yang dimiliki
ini tidak semuanya menjadi peluang. Tidak semua potensi yang dimiliki bisa
dijadikan sebuah hal yang bisa membuat masyarakat sejahtera.
Seperti yang diungkapkan Ketua Komisi I DPRD
Kabupaten Bekasi, Ani Rukmini dalam perbincangan bersama Tribuananews pada,
Selasa 23 Februari 2021 di ruang kerjanya.
Menggali Potensi Usaha Mikro
Ani Rukmini mengatakan, bahwa banyak potensi ekonomi
masyarakat Kabupaten Bekasi yang bisa digali oleh Bumdes melalui sumber daya
alam maupun sumber daya sosial. Salah satunya adalah potensi kuliner khas
Bekasi seperti gabus pucung atau olahan makanan dodol dan destinasi wisata
lainnya.
Menurut Ani Rukmini di Kabupaten Bekasi banyak
sekali aneka ragam kuliner khas tradisional Bekasi yang bisa dikembangkan menjadi
sumber pendapatan masyarakat. Selain itu, destinasi wisata desa termasuk
pesawahan juga bisa dikembangkan menjadi wisata edukasi bagi siswa siswi untuk
mengenal daerahnya sebagai salah satu kawasan lumbung padi di Jawa Barat.
“Tentunya hal ini perlu mendapat dorongan dari
Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi maupun Pemerintah Desa agar masyarakat mampu
mengembangkan potensi ekonomi kreatif yang ada dan harus ada pembinaan agar usaha
tersebut bisa berjalan sesuai yang diharapkan,” kata Ani Rukmini kepada
Tribuananews pada, Selasa (23/2/2021) diruang kerjanya.
Hal pertama yang harus dilakukan oleh Pemerintah
Desa dalam hal ini Bumdes adalah memiliki kharakteristik pembeda. Kita harus
mampu “Melihat sebelum yang lain melihat, memahami sebelum yang lain paham, dan
bertindak sebelum orang lain bertindak,” kata Ani Rukmini.
Tentu, lanjut Ani Rukmini, ini bukanlah hal yang
mudah untuk dilakukan. Kharakter pembeda ini adalah kharakter untuk membuat
Desa Mandiri dan salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan menentukan
peluang usaha.
“Kita dapat menganalisis dari potensi dan problem
yang ada di desa, Kemudian dari kedua hal tersebut, yang memiliki peluang usaha
yang berkelanjutan adalah hal yang harus kita temukan dan pecahkan,” cetusnya.
Menurut Ani Rukmini, menguatkan Bumdes itu satu hal
yang sangat strategis karena itu bicara penguatan ekonomi mikro. Sesuai
pengalaman pada krisis tahun 1998 ketika perusahaan perusahaan besar bertumbangan
tapi kemudian justru usaha kecil seperti Kaki 5 yang cenderung stabil.
Terlebih lagi saat ini, bahwa ditengah anggaran dasar
desa juga kebijakan pemerintah sangat strategis, dengan penguatan anggaran di
desa ada 2 atau 3 Milyar yang digelontorkan ke setiap desa tentu saja sangat
bermanfaat kalau kemudian anggaran itu bisa di aktifiasi untuk penguatan Bumdes.
“Sementara ini, di Kabupaten Bekasi secara data saya
belum melihat kategorisasinya, yang jelas apakah setiap desa selalu ada Bumdes
kalau memang itu merupakan kebijakan yang sifatnya massal bagi setiap desa
standar pada Bumdes mungkin sudah ada. Seperti saya beberapa kali kunjungan
kerja ke desa langsung yang ada Bumdesnya seperti yang di Tambelang Sukawijaya dan
Cikarang. Nah, mereka ada potensi untuk lebih menggerakan Bumdesnya. Ada yang
bergerak di air mineral, di Pasir Gombong misalnya ada yang bergerak di
konveksi dan masker,” terang Ani Rukmini.
“Saya pikir, ya seharusnya kemudian pemerintah bisa
melakukan kapitalisasi dari Bumdes yang sudah ada. Dan memang harus mulai dari
pendataan kategorisasi, mana yang masih tingkat levelnya low atau midel dan
mana yang sudah bergerak artinya dia sudah ekspansi,” ujarnya lagi.
Namun demikian, lanjut dia, sejauh ini banyak
keluhan dari pengelola Bumdes atau masyarakat pelaku usaha mikro. Contoh, mereka
dilibatkan dalam event seperti Bekasi Fair atau pameran jika tidak ada follow
up’nya untuk diarahkan ke UKM kan menjadi kendala juga.
“Sebenarnya banyak potensi potensi yang sifatnya
lokal seperti yang saya sebutkan tadi seperti air mineral, konveksi atau yang
sifatnya tumbuh disitu seperti di Muara Gembong ada mangrovenya bisa dikelola
menjadi dodol atau terasi. Yang jelas banyak masyarakat yang kalau digerakan
potensinya keluar namun masalahnya selama ini terkendala pada distribusi
pemasarannya,” ungkap Ani Rukmini.
Karena apa, lanjut Ani Rukmini, kebijakan makro kita
dalam hal ini belum ada. “Saya selalu sampaikan, kita punya gak outlet, kita
punya gak destinasi produk produk hasil semacam jenis usaha mikro tersebut untuk memfasilitasi produk produk supaya bisa
dipajang disitu, kita belum ada,” cetusnya.
Sehingga, lanjut Ani Rukmini, kalau ada tamu kita
sering kebingungan untuk menghantarkan ke titik titik mana agar tamu bisa
belanjakan uangnya sehingga uangnya bisa dihabiskan di Bekasi.
Potensi
Ekonomi Dari Sektor Pesawahan Masih Relevan
Nama Bekasi dulu dikenal sebagai lumbung padi Jawa Barat,
namun seiring berkembangnya pembangunan pada sektor industri dan permukiman
hampir sebagian besar lahan produktif seperti pesawahan terkikis. Lalu apakah
ekonomi masyarakat dari sektor pertanian khususnya persawahan di Kabupaten
Bekasi saat ini masih relevan?.
Menurut Ani Rukmini, kalau kita lihat kebijakan
pertanian untuk sebagai salah satu sumber pendapatan ekonomi masyarakat saat
ini tentu masih relevan.
“Justru harus dijaga dan dipelihara gitu ya, karena
apa, kita tidak boleh menghilangkan marwah dari negeri tercinta Indonesia sebagai
negeri agraris. Kita tidak boleh meninggalkan marwah bahwa sebelumnya kabupaten
Bekasi dan Kerawang itu sebagai lumbung padi Jawa Barat,” tegasnya.
Cuma, terang Ani Rukmini, karena kemudian banyak industri
industri berkembang kemudian mengikis.
“Nah salah satu kebijakannya harus dijaga jangan
sampai lahan pertanian itu kemudian menjadi terkikis. Makanya harus ada LP2B
(Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan). Nah, Perda itu harus mucul tuh, kemarin
katanya pernah di inisiasi tapi kemudian ditunda pembahasannya pada periode
sebelumnya karena tidak matcing antara
besaran luasnya dengan yang tertera di Perda dengan RT/ RW,” ujarnya.
“Tapi buat saya seh, berapapun besarannya untuk LP2B
itu untuk menjaga lahan pertanian sebagai marwah untuk peningkatan ekonomi di
Kabupaten Bekasi saya rasa masih sangat relevan dan pemerintah harus menjaga
itu.
Dengan adanya LP2B ada yang bisa terus dipelihara sambil
terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah menjual sawahnya.
“Namun tentu saja pemerintah harus modal. Modal
pemerintah itu melakukan pembinaan, memfasilitasi dan memberikan kemudahan seperti
pupuk dan pengairannya,” ujarnya.
Sementara itu, menyikapi rencana Pemerintah Provinsi
Jawa Barat melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa terkait akan
menyekolahkan 200 desa dalam Program Sekolah Bumdes pada 2021 ini.
Dimana ke-200 desa tersebut akan mendapatkan
pelatihan kewirausahaan dari akademisi maupun praktisi kewirausahaan mulai
April 2021 nanti, Ani Rukmini menanggapi bahwa mengingat Bumdes itu akan
menjadi sarana yang baik supaya strategi untuk peningkatan ekonomi di desa maka
Ia sangat mendukung.
“Dengan adanya rencana Sekolah Bumdes yang di fasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat tentu saja saya sangat mendukung karena betapapun pembangunan itu tidak identik dengan infrastruktur ya tapi dengan basisnya mengambil desa untuk meningkatkan kualitas sumber daya di desanya sehingga meningkat potensi ekonomi itukan sangat baik, itu bisa menjadi cara bagi kita untuk mengentaskan kemiskinan,” pungkasnya.*
Laporan : Bachtiar

