masukkan iklan disini
Photo : Said Mustajab, S. Sos, salah seorang Tokoh Muda Nagan Raya juga dikenal dodok Wira Usaha Muda kaliber Nasional
TRIBUANANEWS.COM | Banda Aceh - Tokoh Muda Kabupaten Nagan Raya yang juga merupakan mantan legislator (DPRK) Said Mustajab, S.Sos, ikut memberikan pendapatnya terkait proses pengisian kekosongan sisa masa jabatan Wakil Gubernur (Wagub) Aceh periode 2017-2022 yang hingga sekarang masih belum dilaksanakan.
“Apa yang telah dimulai oleh PNA itu sudah benar dan seharusnya partai-partai pengusung lain ikut pro aktif. Gubernur Nova Iriansyah sebagai pembina sosial politik di daerah wajib mempercepat proses pengisian jabatan kosong itu, karena seorang Wagub memang dibutuhkan oleh rakyat Aceh", kata Said Mustajab, S. Sos, Selasa (26/1).
Bukan sekedar urusan Yuridis formil belaka, tambahnya Dan Said Mysrajab akrab disapa Yed Mus melihat diantara nama-nama yang sudah beredar dalam beberapa bulan terakhir, kalau bicara siapa yang paling ideal dan diinginkan rakyat dari segala sisi adalah mantan Wagub Muhammad Nazar.
"Muhammad Nazar yang pernah suskes membangun Aceh bersama Irwandi Yusuf pada 2007-2012 dulu,” katanya melalui pers rilisnya kepada media Tribuananews.com.
Tanpa bermaksud meremehkan figur-figur lain, menurutnya, Muhammad Nazar memang dikenal kemampuannya, pengalamannya, kecekatan dan bijaknya bukan hanya di kalangan publik Aceh.
"Tetapi kalau kita diskusi tentang tokoh-tokoh Aceh bertalenta kepemimpinan, berkemampuan dalam berbagai bidang pembangunan, komunikatif, mengusai pengetahuan umum dan Agama, sekaligus memiliki legitimasi Sosial yang sangat kuat sejak lama ketika sebahagian tokoh-tokoh lain belum berani berjuang adalah Muhammad Nazar", ungkapnya.
Malah tahmbah Said Mus namanya selalu dimasukkan dalam bursa calon Menteri setiap usai Pilpres di Indonesia, itu artinya seorang Muhammad Nazar itu memang bukan hanya dikenal secara Nasional tetapi kapasitasnya memang di atas rata-rata figur lain yang diketahui hingga di luar Aceh.
"Selain itu harus kita akui secara jujur bahwa pembangunan Aceh pasca damai itu sangat sukses dan banyak rintisan inovatif pada masa pemerintahan Irwandi-Nazar meskipun dana APBA masa mereka dulu tidak sebanyak sekarang", terangnya.
Sejak tahun 2012 Aceh mulai punya dana besar dan bahkan masuk lima atau enam besar APBD terbesar Nasional bersama beberapa Provinsi lain. Sayangnya kesuksesan Irwandi Nazar itu tak bersambung pada masa pemerintahan setelah mereka ketika dana APBA lebih besar.
Dan umum diketahui kesuksesan pembangunan masa Irwandi Nazar itu tak terlepas dari peran wagub Muhammad Nazar juga, mulai dari ide, pemrograman hingga pengawasan lapangan.
“Saya melihat jika partai-partai politik pengusung Irwandi Nova melihat secara jujur dan adil untuk kepentingan rakyat, pembangunan, pengisian perdamaian hingga kepentingan jaringan Aceh dengan Nasional dan Luar Negeri, maka Muhammad Nazar adalah figur yang paling tepat dimajukan untuk mengisi kekosongan jabatan wagub Aceh", nilainya.
Namun kalau bicara keinginan ingin jabatan ya tentu saja siapa saja ingin. Tetapi kalau ingin berdemokrasi sesuai aturan dan prinsip demokrasi pembangunan maka partai-partai politik harus mencari dan merekrut figur dari partai lain atau dari luar partai pengusung itu sendiri untuk diusung menjadi pemimpin.
“Terlebih-lebih lagi Muhammad Nazar dan jaringan SIRA-nya dulu termasuk pendukung dan bergabung dalam timses Irwandi-Nova, bukan oposisi padangan Irwandi-Nova', tambahnya.
Beberapa grup relawan yang memenangkan Irwandi - Nova juga ada yang difasilitasi oleh Muhammad Nazar. Ia paham persis karena dirinya termasuk bergabung dalam timses Irwandi - Nova di Pilkada 2017. Kemenangan Irwandi dan Nova itu tak dapat dilepaskan dari jalinan kekuatan politik lama yang terbentuk pada timses Irwandi - Nazar di Pilkada 2006 dan timses Nazar - Nova pada Pilkada 2012.
"Artinya meskipun secara yuridis formal Muhammad Nazar dan SIRA bukan pengusung Irwandi Nova, tetapi tokoh sentral aktifis sipil Aceh dan SIRA itu bukan orang-orang luar pagar, bukan orang-orang di luar gedung dalam pemenangan Irwandi Nova. Mereka ikut memasang badan dan memobilisasi suara pemenangan,” beber Said Mus.
“Kalau bicara pengalaman untuk kapasitas selevel jabatan wagub saya kira memang tidak ada duanya untuk saat ini. Meskipun kandidat yang harus diusung final untuk divoting DPRA haruslah dua orang", pungkasnya.
Jika bicara faktor politik kekinian dalam hubungan eksekutif legislatif, hubungan pusat dan daerah, hubungan pemerintah Aceh dan kabupaten kota sampai bicara sisi beban berat Aceh yang sangat kompleks, luas areanya.
Selanjutnya, pengawasan pembangunan, kepentingan resolusi konflik berkelanjutan, penanganan urusan-urusan sosial, agama, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, lingkungan hidup, wibawa pemerintahan daerah maka bang Nazarlah orang yang bijak untuk itu dalam membantu gubernur Nova Iriansyah nanti.
"Karakter pribadi bang Nazar yang suka menjadi penyelesai masalah dan tidak mudah terpancing konflik juga jarang dimiliki orang lain. Namun kalau bicara sekedar bagi-bagi proyek ya tak perlu lagi wagub, tetapi pembangunan itu bukanlah bagi-bagi proyek,” tegasnya lagi.
Tokoh muda yang sedang aktif di dunia usaha dan tidak meninggalkan politik itu menutupi penilaiannya. Jika figur selevel kemampuan dan kehebatan seorang Muhammad Nazar itu tidak dimanfaatkan untuk pembangunan Aceh serta membantu gubernur Nova Iriansyah sebagai wagub pengganti dengan sisa jabatan yang tidak lama, sedangkan Aceh dengan segala kompleksitasnya sangat butuh percepatan dan penormalan pembangunannya maka sangatlah disayangkan.
“Jika ada yang terbaik dan ideal seperti bang Nazar tidaklah perlu memaksakan yang belum layak dan yang masih membutuhkan waktu adaptasi serta belajar menjadi Wagub", imbuhnya.
Posisi jabatan wagub itu bukan panitia khanduri blang dan juga bukan warisan untuk partai atau keluarga atau orang tertentu. Fokus saja pada figur yang memenuhi syarat sesuai kebutuhan Aceh, pembangunan, perdamaian dan rakyat seperti yang sudah banyak diharapkan melalui berbagai pendapat masyarakat di berbagai media massa terkait pengisian jabatan wagub tersebut.
"Dan sekali lagi menurut saya bang Muhammad Nazarlah yang sudah pasti cocok untuk hal itu", Said Mus berpendapat.*
Editor : Syahrudin AP

