masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Probolinggo - Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW merupakan kegiatan tahunan warga masyarakat Probolinggo Raya (Kota/Kabupaten Probolinggo), dengan rutin menggelar acara Mauludan (Maulid Nabi Muhammad Sallallaahu 'Alaihi Wasallam-red).
Peringatan Maulid Nabi tersebut berlangsung semarak di Probolinggo Raya, Masjid dan Musholla di penjuru Probolinggo, yang beramai-ramai merayakannya.
Demikian juga yang tampak di Masjid Besar Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, masyarakat sekitar berbondong-bondong datang ke Masjid, baik laki-laki maupun perempuan. Tak lepas juga orang tua maupun anak-anak dengan membawa aneka buah dan rasul (nasi diatasnya dikasih lauk pauk-red).
"Setelah Sholat Maghrib warga sudah berdatangan ke Masjid, dengan membawa buah buahan dan rasul," kata Ustadz Zaenal Fatah kepada Tribuananews, Rabu (28/10/2020) malam.
Ia menuturkan, tradisi mauludan ini sudah dari zaman nenek moyang, dan tak bisa dihilangkan begitu saja, karena sebagai aplikasi cinta kepada nabi dan mengharapkan syafaatnya.
"Tradisi mauludan ini memang tak tersurat, tapi mengandung makna yang tersirat di hati masyarakat, dan tidak bertentangan dengan syari'at Islam, karena masuk pada substansi hasanah (kebaikan)," tuturnya.
Ustadz Zaenal yang sekaligus penyuluh Agama Islam Kecamatan Besuk, yang bertugas di bidang Radikalisme dan Aliran Sempalan ini juga menegaskan, kalau tradisi mauludan ini bukan tergolong bid'ah dholalah (perkara yang tidak dilakukan nabi semasa hidup, yang tidak baik-red).
"Pada saat pembacaan barzanji, aneka buah dan rasul tersebut dijajarkan di tengah orang-orang yang melingkar untuk didoakan bersama. Setelah selesai, rasul-rasul itu kemudian dimakan bersama-sama, juga ada yang dibawa pulang," imbuhnya.
Bagi sebagian masyarakat Probolinggo, tradisi mauludan memiliki nilai tersendiri, yakni untuk merayakan kelahiran baginda nabi. Mereka berkeyakinan, bahwa tradisi tersebut juga dapat menambah rejeki dengan ritual tambahan tertentu.
"Keyakinan semacam itu akan sulit dilogikakan, dan mereka memang tidak butuh logika untuk meyakininya, sepanjang tidak melanggar syari'at yang ada, dan tidak berlebihan dalam merayakannya," pungkasnya.*
Laporan : Taufiq



