
TRIBUANANEWS.COM | Probolinggo - Tak ada yang tak mungkin didunia ini ketika Allah berkehendak, yang jauh menjadi dekat, yang tak mungkin menjadi mungkin, itulah rahasia Allah.Ketika Allah memanggil yang jauh bisa dekat, ketika Allah memanggil yang tidak mungkin bisa jadi sesuatu yang mungkin.
Hal ini terjadi pada pengamen jalanan, Slamet Efendi (30), warga Dusun Krajan RT.03/RW.03 Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Setelah mendaftarkan ibunya Atmina (57), ia juga turut serta mendaftar, cita-cita mulia untuk menapaki Kota Suci Makkah dan Madinah.
Uang hasil jerih payahnya itu diserahkan ke ibunya untuk ditabung. Setelah dirasa cukup membayar setoran BPIH barulah ia mendaftar ibadah haji untuk ibu dan dirinya.
Pemuda kelahiran tahun 1990 itu mengajak serta tetangganya, Yuyun Wahyuni yang diminta membantunya membaca dan menulis formulir pendaftaran BPIH di Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo. "Saya yang antar, karena Slamet ini tidak bisa baca-tulis," ungkap Yuyun.
Keterbatasannya tentang baca-tulis dan kondisi fisik dan mentalnya yang sedikit mengalami kekurangan dibandingkan pemuda normal lainnya, tidak membuat Slamet patah semangat menabung untuk mendaftar haji. "Kami sangat yakin akan kuasa Allah pak, yang tak mungkin menjadi mungkin ketika Allah berkehendak," jelasnya.
Jarak pendaftaran antara ibu dan dirinya itu yang terpaut sekitar 3 tahun, membuat Slamet berharap ada toleransi dari pihak terkait sehingga ia bisa berangkat haji bersama orang tuanya.
"Saya cuma ingin ke Makkah bersama ibu pak. Semoga bisa lebih cepat berangkatnya dan ga' berpisah sama ibu," harapnya.
Kini Slamet terus berupaya mengumpulkan uang dari hasil mengamen, untuk melunasi sisa setoran BPIH setelah ia dan ibunya sudah mendapatkan kuota kursi pemberangkatan ibadah haji.*
Laporan : Taufiq
