masukkan iklan disini
Sersan Mayor (Purn) Marinir, Djoni Liem
“Di isolasi saya, ya tau sendiri kan di isolasi ya, ditanya siang malam siang malam, kamarnya kecil, lampu siang malam nyala. Ditanya dipukul ditanya ini, saya nama waktu itu nama samaran, ditanya tentara, saya jawab bukan,” kata Djoni Liem.
TRIBUANANEWS.COM | Jakarta - Kemerdekaan Indonesia bukan lahir dari pemberian
penjajah. Bendera merah putih berkibar di angkasa karena perjuangan para
pahlawan bangsa yang merebut dari belungu penjajahan. Mereka rela mati demi
tumpah darah tanah air Indonesia.
Para pejuang bangsa berasal dari berbagai daerah di
seluruh Indonesia dengan latar sipil maupun militer bersatu padu melawan tirani
penjajah.
Indonesia memiliki banyak prajurit handal di era
awal awal kemerdekaan, salah satunya adalah Djoni Matius atau yang lebih akrab disapa
Djoni Liem purnawirawan TNI Angkatan Laut yang pernah ikut dalam Operasi
Dwikora.
Djoni Liem adalah orang Tionghoa pertama yang pada
tahun 1957 masuk Korps Komando Angkatan Laut atau yang kini dikenal sebagai
Marinir.
Sersan Mayor Purnawirawan Marinir, Djoni Liem adalah
orang Tionghoa, pada tahun 1957 Ia masuk menjadi anggota Korps
Komando Angkatan Laut atau kini dikenal sebagai Marinir.
Djoni Liem merupakan anggota satuan intai Amfibi. Pria
kelahiran Bandung 3 April 1934 bernama asli Liem Wong Siu ini merupakan salah
satu tokoh dalam Operasi Dwikora.
“Begitu presiden Bung Karno pada tahun 1964 ganyang Malaysia,
saya masuk kesana, tapi saya sudah di Singapur lama, saya dipanggil lagi ke
Jakarta lalu dimasukin ke Malaysia, kalau gak salah 35 orang, kalau gak lupa
ya. Pulang tinggal 5 orang saya. Jadi, sudah banyak yang gak ada sekarang
tinggal satu saya,” jelas Djoni Liem saat diwawancarai TVOne, baru-baru ini.
Jadi saya, lanjut Djoni, memang disana ditawan di
isolasi di hutan 4,5 tahun, di penjara 2,5 tahun.
“Di isolasi saya, ya tau sendiri kan di isolasi ya, ditanya
siang malam siang malam, kamarnya kecil, lampu siang malam nyala. Ditanya
dipukul ditanya ini, saya nama waktu itu nama samaran, ditanya tentara, saya
jawab bukan,” kata Djoni Liem.
“Nah saya waktu masuk di Koti di Jakarta di tanya
siapa yang berani masuk ke Malaysia, namanya diganti, terus tidak boleh ngaku
kesatuan, tidak ada yang berani ngacung, saya yang ngacung, saya yang masuk,
saya ditanya, kamu dari mana, saya dari KKO saya bilang,” tegas Djoni mengenang
ucapannya kala itu.
Selain itu, Djoni Liem juga terlibat dalam penugasan
tempur dan operasi penumpasan PRRI Permesta operasi penumpasan DITII dan
operasi seroja di Timor Timur.
Sebagai orang Tionghoa ia mengabdikan diri untuk
TNI, Djoni memiliki kemampuan khusus yakni menyemburkan senjata jarum beracun
yang tidak bisa di deteksi oleh tentara lawan.
Dalam melakukan penyusupan pada operasi Dwikora ia
sempat tertangkap dan ditahan selama 3 tahun di Johor Baru. Ia juga mendapat
vonis hukuman mati dalam persidangan militer Internasional.
Namun Djoni Liem selamat dari hukuman gantung
setelah keluarnya perjanjian damai Indonesia – Malaysia pada 28 Mei 1966. Meski
menjalani masa purna tugas Djoni Liem hingga saat ini sering diperhatikan
sebagai motivator bagi prajurit Marinir.*
Laporan : Bachtiar

