masukkan iklan disini
"Menjadi seorang Polwan tergantung kita membawa diri. Seorang Polwan bisa menjadi ibu yang teladan bagi anak anaknya, dan menjadi istri yang amanah bagi suaminya".
TRIBUANANEWS.COM | Medan - Hampir setiap orang sewaktu masih duduk di
bangku TK atau SD, sering ditanyai soal cita-cita. Di antara berbagai jawaban, menjadi
Polisi mungkin menjadi salah satu jawabannya.
Polisi memang menjadi profesi yang membanggakan.
Namun di balik itu semua ada suka duka bahkan resiko yang membayangi profesi Polisi.
Apa saja?, Menyambut hari Polisi Wanita (Polwan) Indonesia ke-72 (1 September 2020), berikut perbincangan
redaksi Tribuananews beberapa waktu lalu dengan salah seorang Polwan cantik, Brigadir Sri Wahyuni, S.H., Sang Srikandi Tangguh dari Satuan Brimob
Polda Sumatera Utara.
Brigadir Sri Wahyuni, SH
Terlepas dari adanya oknum Polisi yang nakal, masih
banyak Polisi berdedikasi tinggi di negara ini. Mereka bekerja keras
memberantas kejahatan yang sering membuat masyarakat resah seperti pencurian,
narkoba, pemerkosaan, judi dan lainnya. Peran Polisi di sini untuk melindungi
masyarakat agar merasa aman.
Polisi juga bertanggung jawab untuk menanggapi
situasi darurat kemanusiaan. Dalam beberapa kasus, menyelamatkan nyawa. Mereka
harus selalu merespon dengan cepat dan dengan tepat.
Tak peduli itu siang ataupun
malam yang penting baginya adalah keselamatan masyarakat. Pekerjaan ini
membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan banyak petugas yang menghabiskan kehidupan
mereka di kepolisian.
Brigadir Sri wahyuni, SH saat tidak mengenakan baju seragam kepolisian
Seperti halnya dengan Brigadir Sri Wahyuni yang saat
ini bertugas di Bamin Subaremin Satuan Brimob Polda Sumatera Utara. Polwan
cantik penggemar kuliner olahan mie ini menjelaskan bagaimana suka dukanya
menjadi seorang Polwan.
Polwan kelahiran Sidodadi 1989 ini mengaku saat masih
kanak kanak sama sekali tidak punya niatan atau cita cita untuk menjadi seorang
Polwan. Justru ia berharap bisa menjadi seorang pekerja kantoran atau pengusaha
seperti kedua orangtuanya.
Namun garis tangan berkata lain, ia justru kemudian terinspirasi
untuk menjadi Polisi seperti abang kandungnya yang sudah lebih dulu menjadi
anggota kepolisian di Polda Sumatera Utara. Dan setelah tamat SMA wanita yang
akrab disapa Yuni ini mencoba mendaftar untuk menjadi Polisi.
Singkat cerita, awal karier Yuni menjadi Polisi, ia lulus
menjadi Polwan pada tahun 2008 melalui pendidikan Sepolwan di Ciputat Jakarta
Selatan. Putri kedua dari 5 bersaudara ini menjadi wanita pilihan Negara dengan
ranking 2.
Polwan yang pernah mengenyam pendidikan di SMA
Negeri 7 Medan ini sejak remaja memang sudah tampak sebagai wanita yang gigih
dan tangguh dalam menapaki perjalanan hidupnya.
Terbukti, saat ia masih duduk dibangku SMA tanpa ada
sedikitpun rasa malu ia menjalani usaha sampingan berjualan kosmetik. Hal itu
ia lakoni demi mendapatkan uang tambahan guna menunjang biaya kegiatan sekolahnya.
Anak kedua dari 5 bersaudara ini awal kali bertugas
sebagai Polwan di Polres Binjai selama 2 tahun. Kemudian ia bertugas di Inspektorat
Polda Sumatera Utara selama 3 tahun, dan selanjutnya bertugas di Satuan Brimob
Polda Sumatera Utara mulai dari tahun 2013 hingga sekarang 2020.
Menurut Yuni, menjadi Polwan tentu banyak suka
dukanya, dalam bertugas banyak lika liku pengalaman yang menarik. Contohnya, di
masing-masing seksi atau bidang dituntut untuk belajar apa, seperti apa, untuk
menjadi apakah Polwan disitu. Intinya, menggali potensi diri untuk terus berkembang.
“Untuk itu kita harus memberanikan diri untuk belajar,
mencoba dan selalu bertanya pada senior atau yang diseniorkan, kita juga untuk
tidak malu malu belajar. Kita juga dibekali dengan mengikuti kegiatan dikbang
pers untuk menambah pengetahuan di bidang kepolisian. Selain itu, kita juga
dianjurkan untuk menimba ilmu diluar seperti melaksanakan kuliah atau kegiatan
kegiatan yang bersifat positif,” tutur Polwan yang punya hobbi memasak ini.
Menurut Yuni, menjadi seorang Polwan tergantung kita
membawa diri. Seorang Polwan bisa menjadi ibu yang teladan bagi anak anaknya,
dan menjadi istri yang amanah bagi suaminya.
Namun Yuni tidak menampik dirinya pernah diganggu
pria iseng ketika tidak mengenakan pakaian dinas kepolisian saat kegiatan
diluar dinas, seperti sedang kuliah atau berjalan jalan bersama anak dan suami.
“Karena mereka juga gak tau mungkin kalau saya ini
Polwan,” ujar Yuni.
Polwan yang hobbi olah raga renang ini lebih jauh
mengungkapkan kebiasaan positifnya yang lain, yakni mengurus rumah alias senang
bersih bersih, berkebun dan memasak.
Dan ternyata, kendati dirinya sudah menjadi Polwan,
Yuni juga masih hobbi berbisnis, walaupun tak disebutkannya bisnis apa, yang
pasti ibarat pepatah mengatakan, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.
Seperti orangtuanya yang sebagai pengusaha, Yuni juga mewarisi bakat itu
untuk terus berbisnis kendati hal itu hanya sebagai sampingan saja dari profesinya
sebagai Polwan.
Yang menarik dari obrolan kami yang singkat ini
dengan Brigadir Sri Wahyuni, S.H., adalah selain Polwan dituntut profesional dalam
tugas dan pengabdian terhadap bangsa dan Negara.
Polwan juga menjalani
kodratnya sebagai seorang wanita, seorang ibu dan istri. Artinya, betapa
mulianya wanita yang berprofesi sebagai Polwan.
Betapa dirinya harus menjalankan tugas ganda secara
selaras, baik dalam tugasnya sebagai Polwan maupun sebagai istri sekaligus ibu
bagi putra putrinya di rumah.
Selamat Hari Polisi Wanita Indonesia ke-72 (1
September 2020), Jaya Selalu Polwan Indonesia!. Tulus mengabdi kepada Bangsa
dan Negara serta Keluarga.*
Laporan : Hendra Purwanto



