• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Brigadir Sri Wahyuni, Cantiknya Wajahmu, Tulusnya Pengabdianmu

    22/08/20, 20:38 WIB Last Updated 2020-08-22T15:40:39Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini


    "Menjadi seorang Polwan tergantung kita membawa diri. Seorang Polwan bisa menjadi ibu yang teladan bagi anak anaknya, dan menjadi istri yang amanah bagi suaminya".


    TRIBUANANEWS.COM | Medan - Hampir setiap orang sewaktu masih duduk di bangku TK atau SD, sering ditanyai soal cita-cita. Di antara berbagai jawaban, menjadi Polisi mungkin menjadi salah satu jawabannya.

    Polisi memang menjadi profesi yang membanggakan. Namun di balik itu semua ada suka duka bahkan resiko yang membayangi profesi Polisi. Apa saja?, Menyambut hari Polisi Wanita (Polwan) Indonesia ke-72 (1 September 2020), berikut perbincangan redaksi Tribuananews beberapa waktu lalu dengan salah seorang Polwan cantik, Brigadir Sri Wahyuni, S.H., Sang Srikandi Tangguh dari Satuan Brimob Polda Sumatera Utara.

    Brigadir Sri Wahyuni, SH

    Terlepas dari adanya oknum Polisi yang nakal, masih banyak Polisi berdedikasi tinggi di negara ini. Mereka bekerja keras memberantas kejahatan yang sering membuat masyarakat resah seperti pencurian, narkoba, pemerkosaan, judi dan lainnya. Peran Polisi di sini untuk melindungi masyarakat agar merasa aman.

    Polisi juga bertanggung jawab untuk menanggapi situasi darurat kemanusiaan. Dalam beberapa kasus, menyelamatkan nyawa. Mereka harus selalu merespon dengan cepat dan dengan tepat. 

    Tak peduli itu siang ataupun malam yang penting baginya adalah keselamatan masyarakat. Pekerjaan ini membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan banyak petugas yang menghabiskan kehidupan mereka di kepolisian.

    Brigadir Sri wahyuni, SH saat tidak mengenakan baju seragam kepolisian

    Seperti halnya dengan Brigadir Sri Wahyuni yang saat ini bertugas di Bamin Subaremin Satuan Brimob Polda Sumatera Utara. Polwan cantik penggemar kuliner olahan mie ini menjelaskan bagaimana suka dukanya menjadi seorang Polwan.

    Polwan kelahiran Sidodadi 1989 ini mengaku saat masih kanak kanak sama sekali tidak punya niatan atau cita cita untuk menjadi seorang Polwan. Justru ia berharap bisa menjadi seorang pekerja kantoran atau pengusaha seperti kedua orangtuanya.

    Namun garis tangan berkata lain, ia justru kemudian terinspirasi untuk menjadi Polisi seperti abang kandungnya yang sudah lebih dulu menjadi anggota kepolisian di Polda Sumatera Utara. Dan setelah tamat SMA wanita yang akrab disapa Yuni ini mencoba mendaftar untuk menjadi Polisi.

    Singkat cerita, awal karier Yuni menjadi Polisi, ia lulus menjadi Polwan pada tahun 2008 melalui pendidikan Sepolwan di Ciputat Jakarta Selatan. Putri kedua dari 5 bersaudara ini menjadi wanita pilihan Negara dengan ranking 2.

    Polwan yang pernah mengenyam pendidikan di SMA Negeri 7 Medan ini sejak remaja memang sudah tampak sebagai wanita yang gigih dan tangguh dalam menapaki perjalanan hidupnya.

    Terbukti, saat ia masih duduk dibangku SMA tanpa ada sedikitpun rasa malu ia menjalani usaha sampingan berjualan kosmetik. Hal itu ia lakoni demi mendapatkan uang tambahan guna menunjang biaya kegiatan sekolahnya.

    Anak kedua dari 5 bersaudara ini awal kali bertugas sebagai Polwan di Polres Binjai selama 2 tahun. Kemudian ia bertugas di Inspektorat Polda Sumatera Utara selama 3 tahun, dan selanjutnya bertugas di Satuan Brimob Polda Sumatera Utara mulai dari tahun 2013 hingga sekarang 2020.

    Menurut Yuni, menjadi Polwan tentu banyak suka dukanya, dalam bertugas banyak lika liku pengalaman yang menarik. Contohnya, di masing-masing seksi atau bidang dituntut untuk belajar apa, seperti apa, untuk menjadi apakah Polwan disitu. Intinya, menggali potensi diri untuk terus berkembang.

    “Untuk itu kita harus memberanikan diri untuk belajar, mencoba dan selalu bertanya pada senior atau yang diseniorkan, kita juga untuk tidak malu malu belajar. Kita juga dibekali dengan mengikuti kegiatan dikbang pers untuk menambah pengetahuan di bidang kepolisian. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk menimba ilmu diluar seperti melaksanakan kuliah atau kegiatan kegiatan yang bersifat positif,” tutur Polwan yang punya hobbi memasak ini.

    Menurut Yuni, menjadi seorang Polwan tergantung kita membawa diri. Seorang Polwan bisa menjadi ibu yang teladan bagi anak anaknya, dan menjadi istri yang amanah bagi suaminya.

    Namun Yuni tidak menampik dirinya pernah diganggu pria iseng ketika tidak mengenakan pakaian dinas kepolisian saat kegiatan diluar dinas, seperti sedang kuliah atau berjalan jalan bersama anak dan suami.

    “Karena mereka juga gak tau mungkin kalau saya ini Polwan,” ujar Yuni.

    Polwan yang hobbi olah raga renang ini lebih jauh mengungkapkan kebiasaan positifnya yang lain, yakni mengurus rumah alias senang bersih bersih, berkebun dan memasak.

    Dan ternyata, kendati dirinya sudah menjadi Polwan, Yuni juga masih hobbi berbisnis, walaupun tak disebutkannya bisnis apa, yang pasti ibarat pepatah mengatakan, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. 

    Seperti orangtuanya yang sebagai pengusaha, Yuni juga mewarisi bakat itu untuk terus berbisnis kendati hal itu hanya sebagai sampingan saja dari profesinya sebagai Polwan.

    Yang menarik dari obrolan kami yang singkat ini dengan Brigadir Sri Wahyuni, S.H., adalah selain Polwan dituntut profesional dalam tugas dan pengabdian terhadap bangsa dan Negara. 

    Polwan juga menjalani kodratnya sebagai seorang wanita, seorang ibu dan istri. Artinya, betapa mulianya wanita yang berprofesi sebagai Polwan.

    Betapa dirinya harus menjalankan tugas ganda secara selaras, baik dalam tugasnya sebagai Polwan maupun sebagai istri sekaligus ibu bagi putra putrinya di rumah.

    Selamat Hari Polisi Wanita Indonesia ke-72 (1 September 2020), Jaya Selalu Polwan Indonesia!. Tulus mengabdi kepada Bangsa dan Negara serta Keluarga.*

    Laporan : Hendra Purwanto

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan