masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Tolitoli - Sistem zonasi yang tetap ditetapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari SD, sampai SMA/ SMK Negeri di seluruh nusantara masih dibayangi sejumlah masalah. Salah satu masalah utama yang masih akan timbul dalam PPDB adalah ketidakseimbangan daya tampung sekolah.
Seperti halnya di SMA Negeri 3 Tolitoli dengan jumlah pendaftar siswa didik baru sebanyak 200 lebih, sedangkan kuota yang tersedia untuk semua kategori sebanyak 144 untuk empat kelas.
Kepala sekolah SMA Negeri 3 Tolitoli Dra. Ratna A.R Loi ditemui diruang kerjanya, Kamis (2/7/2020), mengatakan sampai dengan hari ini yang sudah mengembalikan berkas sebanyak 123. Adapun kami masih memberi kesempatan kepada orang tua sampai hari sabtu untuk pembebanan pakaian dengan ciri khas sekolah berupa pakaian batik dan olah raga.
Lanjutnya, sekarang yang menjadi masalah dengan adanya zona kami dari Kapas dan yang terdekat Kelurahan Baru menjadikan dua sekolah SMA Negeri yang ada di tengah Kota Tolitoli tidak sanggup menampung pendaftar dari Desa kapas.
Sehingga ada beberapa orang yang meminta untuk masuk, sejauh ini saya masih kumpulkan berkasnya dan saya belum berani mengambil kebijakan tanpa melalui rapat.
"Kita liat dulu jika kuota tidak terpenuhi sampai hari sabtu, maka akan mengundang orang tua di hari senin untuk mencukupkan kuota yang ada," ujarnya.
Sementara SMA Negeri 1 juga kewalahan karena desakan 300 lebih yang mendaftar, sedangkan yang diterima 225 siswa sesuai dengan kuota kelas.
Kemudian untuk tidak berbenturan dengan aturan zonasi, kepada orang tua saya mintakan kartu keluarga dengan alamat tertera dan kemungkinan akan dibuatkan surat pernyataan, dikarenakan ada juga beberapa sekolah SMA swasta seperti Atmajaya, Cokro, Integral yang berdekatan. Malahan SMA Cokro membebaskan biaya spp selama satu tahun olehya saya mengarahkan untuk mendaftar kesekolah swasta karena disana masih banyak kuota yang belum terpenuhi.
"Akan tetapi banyak yang menolak sehingga saya akan buatkan pernyataan bahwa sejauh ini sudah mengarahkan, dengan demikian mereka tidak mau sehingga tidak dikenakan barangkali cuman sekolah yang diinginkan murid serta daya tampung kami pun tidak cukup. Lain halnya saya tidak tau kalau pemaksaan dari anak-anak tidak mau lagi bersekolah, dengan jalan saya akan menampung, tetapi harus bermohon ke Provinsi untuk mengunakan Lab sebagai ruang belajar," tambahnya.
"Saya pun berharap kalau memang ada bantuan lagi untuk ruang kelas baru (RKB) dari Provinsi, mungkin kedepanya akan lebih banyak daya tampung murid dan juga lahan di SMA 3 masih luas," tutup kepsek.*
Laporan : Agus

