masukkan iklan disini
Foto : Ki Djagat Samudra
"Sebentar lagi Ramadhan tiba, kita tunaikan kewajiban sebagai umat Muslim menjalani ibadah puasa satu bulan penuh. Mari jadikan bulan suci ini sebagai obat penawar virus Corona, obat penenang hati yang was was. Yakinlah, tak ada penyakit yang tak ada obatnya, kecuali kematian," kata Ki Djagat.
TRIBUANANEWS.COM | Bogor - Spiritualis kondang Ki Djagat Samudra yang selama ini sempat menghilang dari publik akhirnya kembali muncul dan angkat bicara terkait merebaknya wabah virus Corona (Covid-19) yang melanda dunia khususnya di Indonesia.
Menurut pria yang akrab disapa Ki Djagat ini, memprediksi aktifitas virus Corona akan turun selama bulan Ramadhan, bahkan orang yang di vonis positif terinfeksi virus mematikan ini juga akan banyak yang sembuh.
"Ini bukan terawangan, tapi sebuah realita dimana pada bulan puasa ramadhan orang enggan beraktifitas di luar rumah dan cenderung lebih memilih berada di rumah untuk menjalankan ibadah puasanya. Hal tersebut secara otomatis akan memutus mata rantai penyebaran virus Corona, sesuai imbauan pemerintah untuk berdiam diri selama 14 hari. Nah, puasa Ramadhan ini hitungannya kurang lebih 30 hari, artinya manfaat 2 minggu pertama untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona dan 2 minggu berikutnya adalah untuk proses penyembuhan para pasien yang sudah terjangkit virus ini," kata Ki Djagat saat berbincang-bincang dengan awak media Postdesa.com dan Tribuananews.com, Sabtu (18/4) melalui sambungan WhatSappnya.
Selain itu, lanjut dia, pada bulan Ramadhan akan banyak umat Muslim yang secara khusyuk melakukan ibadah, selain berpuasa juga banyak yang melaksanakan ibadah lainnya seperti sholat taraweh, tadarus dengan khatam Al Qur'an ditambah lagi doa-doa mustazab orang yang berpuasa.
"Berbagai ibadah di bulan Ramadhan ini akan memancarkan energi positif baik secara vertikal yaitu komunikasi manusia dengan Sang Pencipta Alam, Allah SWT, maupun secara horisontal yaitu manusia dengan alam sekitarnya. Terlepas virus Corona ini muncul secara alami maupun sengaja ada tangan manusia yang membuatnya, tetapi dengan khusyuknya menjalani ibadah puasa maka semua akan kembali pada kodratnya mahluk dengan segala kelemahannya," paparnya.
Kabar Gembira, Pasien Positif Covid-19 Banyak Yang Sembuh
Pria kelahiran Jakarta 1970 yang enggan disebut sebagai paranormal ini juga mengungkapkan sedahsyat-dahsyatnya virus corona tetap ada kelemahannya, ada batasnya.
"Sehalus-halusnya mahluk yang bernama Corona ini tetap dia memiliki batas kemampuan. Terlebih lagi dilawan dengan ibadah puasa dan doa yang ikhlas, saya yakin sepak terjang virus ini Insya Allah akan melemah. Allah yang punya Kuasa atas setiap mahluk yang ada di muka bumi ini. Allah mengabulkan doa orang yang teraniaya, Allah mengabulkan doa orang yang berpuasa," ungkapnya.
Baru kemarin, lanjut Ki Djagat, kita menerima kabar gembira dari juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 yaitu Achmad Yurianto yang mengatakan bahwa jumlah pasien sembuh positif Covid-19 bertambah.
"Ini baru menjelang bulan Ramadhan Allah sudah mengabulkan doa saudara kita yang positif terinfeksi virus Corona dengan mengangkat penyakitnya dan memberikannya kesembuhan. Penanganan medis dan obat-obatan yang diberikan terhadap penderita Covid-19 merupakan salah satu mediasi atau perantara, hakekatnya Allah yang telah menyembuhkannya," ujarnya.
Tak Ada Penyakit Yang Tak Ada Obatnya, Kecuali Kematian
Selain itu, spiritualis yang juga aktif di dunia jurnalistik ini mengatakan hendaknya kita tetap bersyukur kendati dalam keadaan susah seperti saat ini. Sebab ujian Allah sangat beragam, sama beragamnya dengan kenikmatan yang selama ini telah diberikanNya kepada kita.
Tak pantaslah kita mengeluh dengan ujian yang sekali ini di banding dengan kenikmatan yang telah kita terima berkali-kali sebelumnya. Bersukur kita masih diberikan ujian oleh Allah, artinya Allah masih menyayangi kita sebagai hambanya. Allah masih mau menegur dan mengingatkan kita karena khilaf, salah dan dosa yang kita perbuat agar kita sadar dan bertaubat.
"Oleh karena itu kita juga patut mengikuti imbauan pemerintah untuk sementara waktu berdiam diri di rumah dan tidak melakukan aktifitas diluar yang tujuannya untuk memutus penyebaran virus Corona ini. Imbauan pemerintah ini sudah tepat, mari kita maknai imbauan tersebut sebagai introspkesi diri, memperbaiki komunikasi vertikal kepada Allah Sang Maha Pencipta dengan cara ibadah khusyuk di rumah," kata Ki Djagat.
Insya Allah, sambung Ki Djagat, bulan Ramadhan akan menjadi bulan pembakaran bagi virus Corona, menjadi bulan pemusnah wabah penyakit ini.
"Sebentar lagi Ramadhan tiba, kita tunaikan kewajiban sebagai umat Muslim menjalani ibadah puasa satu bulan penuh. Mari jadikan bulan suci ini sebagai obat penawar virus Corona, obat penenang hati yang was was. Yakinlah, tak ada penyakit yang tak ada obatnya, kecuali kematian," pungkasnya.* (Anang)

