masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Jakarta - Berawal dari tragedi pembunuhan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran, Jenderal Qassim Sulaimani dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak Kawasan Timur Tengah dua pekan terakhir menjadi tegang, yang diprediksi memicu Perang Dunia III dan Iran bersumpah untuk membalas kematian Sulaimani, lalu eskalasi dilakukan Iran dengan menyerang dua pangkalan pasukan AS di Irak.
Indonesia melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi saat itu langsung memanggil Dubes Iran dan Dubes AS untuk Indonesia membahas hal ini.
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid meminta Indonesia terus terlibat dan memanfaatkan seluruh jaringannya untuk mencegah terjadinya eskalasi makin meningkat antara Iran dan AS, karena langkah Presiden Donald Trump sulit diprediksi.
"Mewakili Parlemen , ini kan bicara Undang-Undang juga, Jadi Indonesia memang harus berperan aktif sesuai amanat Undang Undang, Indonesia has to do all we can untuk membantu mencegah potensi yang tidak kita harapkan tidak terjadi, Kemlu dihimbau untuk melibatkan dan berkomunikasi sebanyak mungkin," jelasnya dalam diskusi Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) di Jakarta Selatan, Kamis (23/1) sore.
Meutya mengatakan point kekhawatiran Indonesia yakni ekonomi kita dapat terganggu. Secara khusus adalah kita harus bersama-sama membantu supaya ada penurunan ketegangan di wilayah Timur Tengah khususnya hubungan antara Amerika Serikat dengan Iran. Untuk itu kami meminta Pemerintah untuk menggunakan semua chanel dan upaya upaya guna meredakan ketegangan di kawasan sana, komunikasikan dengan Menteri Luar Negeri Iran, karena Indonesia Mendukung perdamaian di kawasan tersebut.
Menurut nya diplomasi tak melulu harus menggunakan megaphone diplomacy atau hanya koar-koar, tapi juga harus bertindak secara terukur, bukan bicara dengan keras, tapi intensitas harus dilakukan dan siapapun yang dianggap dapat membantu baik dari dalam negeri maupun luar negeri silakan digalang dan dikomunikasikan
Meutya mengajak negara-negara ASEAN agar ikut menyuarakan hal ini. Termasuk juga menggalang suara negara-negara Islam, maupun bersuara di Dewan Keamanan PBB. Karena dampaknya jika terjadi peningkatan ketegangan di sana akan sangat buruk tak hanya bagi Indonesia tapi bagi dunia.*(lukman)


