masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Gianyar - Kesenian seperti tari dan teater tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan, sebagian diantaranya menjadi komponen pelengkap dari ritual keagamaan, keragaman fungsi ini membuat kesenian Bali begitu kaya dengan ragam dan variasi. Salah satu wujud nyata dapat dilihat pada keragaman yang ada dalam topeng Bali.
Salah seorang seniman topeng Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si yang biasa disapa Aji Kuru Jimbar Kepakisan ketika berbincang - bincang dengan Kepala Tribuananews.com Perwakilan Provinsi Bali saat acara Pesamuhan Agung II Manca Agung trah Ida Dhalem Shri Aji Tegal Besung di Pura Dalem Samprangan mengatakan topeng Bali dibuat dari bahan kayu yang jenis kayunya digunakan sebagai bahan pembuatan topeng antara lain kenanga dan pule. "Topeng menjadi perangkat utama dalam pelaksanaan upacara yadnya, dalam tari topeng setiap pentas penari tampil dengan busana khusus serta mengenakan topeng. Topeng yang dipakai penari menunjukkan tokoh yang diperakannya dalam sebuah pertunjukan dan cerita yang dibawakan dalam tari topeng biasanya berasal dari babad, sejarah atau kisah legenda," jelas Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si.
Lebih lanjut Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si menjelaskan berdasarkan pada strata sosial dari lakon yang ditampilkan, topeng dikelompokkan menjadi beberapa yakni topeng keras (sosok petarung), topeng tua (sosok sesepuh), topeng bondres (rakyat biasa), dan topeng ratu (kalangan bangsawan). "Ada pula jenis topeng khusus seperti topeng Calonarang, topeng Jauk dan topeng Telek," kata Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si.
Ketika disinggung mengenai bhagawata purana Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si menyebutkan bahwa tujuan pemujaan Tri Murti yang dipuja di Khayangan Tiga adalah untuk memahami Tri Guna yaitu sifat Sattwam, Rajas dan Tamas secara mendalam. Pura juga disebut Pujagraha tempat memuja, menghaturkan sembah bakti dan sujud kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Agung Maha Tunggal. Ketika pemedek berada tempat suci wajib menata dengan merevolusi sifat mental, sifat mental yang harus ditata adalah memahami Tri Guna yakni menata sifat ego, iri dengki, marah, arogan kepada saudara kita yang sedang berada di tempat suci. "Bentuk bakti kita ditempat suci wajib memamhaminya. Apakah dengan sesajen besar atau kecil sederhana tidak boleh diperdebatkan. Mari kita perhatikan dan pahami makna yang tersurat dalam Bhagawad Gita IX,26. Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji buah buahan atau seteguk air AKU terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci," urainya.
Lebih lanjut Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si memaparkan jika dikaji lebih dalam makna dari Bhagawad Gita adalah berhati suci tentu hati yang suci inilah terkait dengan sifat Tri Guna. Hati yang suci adalah hati yang tidak terbungkus lagi dengan rajas dan tamas sebagai dominansinya. "Pengetahuan yang dapat kita petik dari isi Bhagawad Gita adalah pengetahuan yang maha utama. Pengetahuanlah sebagai dasar memperoleh materi berdasarkan sifat sattwam. Jelaslah bahwa pemahaman tentang Triguna yaitu Sattwam Rajas dan Tamas sebagai aplikasi terpenting di dalam pelaksanaan upacara di Pura, bukan saja di Khayangan Tiga Puseh, Desa dan Dalem namun pemahaman sifat ini wajib di seluruh Pura bahkan diseluruh ruang," jelasnya.
Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si menyatakan dalam Bhagavata Purana 1.2.23 adalah Sattwam Rajas Tamas iti Prakrtes gunas Tair Yuktah Parah Purusa Eka Ihasya Dhatte Sthity Adaya Hari Virinci Hareti Samjnah artinya Tuhan Yang Maha Esa Sri Hari yang spiritual, tidak langsung berhubungan dengan sifat - sifat alam material, Sattwam (kebaikan), Rajas (kenafsuan) dan Tamas (kegelapan). Untuk keperluan proses penciptaan, pemeliharaan dan peleburan alam material, Beliau mengambil perwujudan ke tiga sifat alam tersebut sebagai Brahma, Visnu dan Siwa.
Di Pura Kayangan Tiga sebagai pusat umat Hindu menyatukan persepsi memahami Triguna, sehingga sarana upakara yang digelar tidak menjadi bahan perdebatan prihal besar kecil yadnya, nista madya utama sebuah upakara yadnya. "Membungkus yadnya dengan pemahaman sifat (Tri Guna), korelasinya umat agar tidak menjadi rasa bersalah, rasa berdosa, rasa takut atas kebaradaan upakara yang dihaturkan saat upacara yadnya berlangsung. Umat tidak hanya fokus akan sarana upakara yang besar atau kecil, tetapi umat harus memahami dirinya beryadnya saat upacara yadnya berlangsung. Sehingga Yadnya itu berjalan dengan tulus dan Iklas menuju kebahagiaan," pungkas Ir. Dewa Putu Raka A, M.Si. (Iskandar/Udiana)


