TRIBUANANEWS.COM | Langkat - Kantibmas di kawasan perkebunan negara di Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat , saat ini dinilai tidak kondusif. Hal ini ditandai dengan semangkin tingginya aksi penjarahan kelapa sawit dan juga kekerasan pada karyawan serta petugas keamanan perkebunan.
Akibat lemahnya pengawasan dari aparat kepolisian, diduga menjadi penyebab tidak kondusifnya Kantibmas di kawasan perkebunan PT.Langkat Nusantara Kepong (LNK), hal ini di katakan Suharto SH selaku Direktur SDM PT. LNK.
Direktur SDM itu mengutarakan keprihatananya terkait kurang kondusifnya Kantibmas di kawasan perkebunan milik negara, Senin (15/3) usai menjenguk petugas keamanan yang menjadi korban kekerasan pembacokan di areal perkebunan Marike
Aksi penjerahan dan tindakan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang itu diakuinya dapat ditumpas, apa bila aparat kepolisian serius dalam melaksanakan tugas menjaga kantibmas di wilayah perkebunan.
" Kami sangat berharap aparat kepolisian dapat membantu perusahaan milik negara mengamankan asset serta menciptakan rasa aman bagi pekerja di perusahaan negara ini, " sebutnya seraya mengharapkan pelaku kekerasan pada karyawan tersebut dapat secepat mungkin ditangkap.
Korban kekerasan yang dialami salah seorang pekerja keamanan perkebunan itu disebutkan Suharto dianiaya saat melakukan tugas di areal perkebunan oleh sekelompok orang. Pelaku penganiayaan diduga juga merupakan kelompok terorganisir yang kerap melakukan penjarahaan hasil perkebunan.
Eka Syahputra korban tindakan kekerasan mengatakan, aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok orang itu hingga dirinya mengalami luka bacokan di bahagian tangan kanannya, terjadi saat dia mengawasi hasil jarahan kelapa sawit yang berhasil mereka amankan.
"Saya diserang dengan senjata tajam oleh orang yang diduga merupakan pelaku penjarah kelapa sawit yang hasil jarahannya berhasil kami amankan," sebut korban. Pelaku kekerasan berjumlah dua orang itu, usai melukai korban melarikan diri.
Beradasarkan data yang diperoleh dari Perkebunan Marike, jumlah produksi sawit yang dijarah sekelompok orang tercatat mencapai lebih dari 200 ton. Tingginya tingkat penjarahan di kawasan perkebunan milik negara itu serta terjadinya aksi kekerasan dengan menggunakan senjata tajam di wilayah hukum Polres Langkat sektor Salapian, merupakan salah satu indikasi rawannya kantibmas di wilayah itu.
Kapolsek Salapian AIPTU Trisno Sumarto saat dikonfirmasi wartwan membenarkan adanya korban kekerasan dengan menggunakan sajam di wilayah hukumnya. " Pelaku diduga merupakan maling sawit dan saat ini masih dalam proses pencarian ," sebut Kapolsek melalui Kanit Reskrim Ipda Mimpin Ginting.
Liputan: Dian


