masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Banda Aceh - Direktur Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Nasruddin menilai pemerintah tidak serius menangani pengungsi Rohingya di Aceh, pasalnya dari jumlah pengungsi 396 saat ini tinggal di camp BLK Lhukseumawe hanya 130 orang lagi
Dari hasil investigasi pihaknya Pemerintah Kota Lhokseumawe telah menyerahkan pengungsi kepada United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) pada tanggal 4 Desermber 2020 dan ini sangat aneh.
"Padahal dalam Perpres 126 tahun 2016 bahwa Pengungsi Internasional yang telah menginjak kaki di Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah, ini kok aneh malah Pemko Lhukseumawe menyerahkan kepada lembaga asing, ini sangat aneh", ujar Nasruddin melalui pers rilisnya.
Akibat kurangnya kepedulian pemerintah berakibat kaburnya pengungsi dari camp entah kemana, bahkan sampai di tangkap oleh warga di Bireun dan di luar Aceh, sehingga menimbulkan masalah baru di daerah lain.
Lebih lanjut Nasruddin juga menyampaikan tidak transparan pengelolaan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya berapa jumlah dana yang telah di terima oleh Satgas dan berapa jumlah bantuan pangan yang di terima dari donatur maupun dari masyarakat.
Bahkan menurut informasi di terima pihaknya ada bantuan yang di keluarkan pada waktu malam hari menggunakan kenderaan, begitu juga dengan aset yang telah di bangun di atas tanah Pemkab Aceh Utara apakah di catat dan bagaimana prosesnya kedepan nantinya
"Ini harus jelas dari awal dan di buktikan antara Donatur, Pemkab Aceh Utara selaku pemilik lahan dan Pemko Lhukseumawe, jangam sampai aset yang telah di bangun oleh LSM tersebut nantinya akan menjadi persoalan baru", terangnya kepada media Tribuananews.com, Minggu (3/1).
Oleh karena hal tersebut Nasruddin meminta Penegak Hukum untuk segera melakukan audit bantuan yang telah di kelola oleh Satgas selama ini., hal ini penting dilakukan demi menjaga nama baik daerah di mata Internasional.
"Jangan sampai Negara kita menjadi taruham akibat pelayanan pengungsi di Aceh buruk, bahkan terkesan membiarkan mereka pergi entah kemana, apa lagi sampai ada yang berangkat ke luar Negeri melalui jalur gelap", pungkasnya.*
Laporan : Ediwan Kunaidi
Editor : Syahrudin AP


