TRIBUANANEWS.COM | Banda Aceh - Direktur Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Nasruddin menyapaikan penyebab terjadinya banjir bahwa masih maraknya penebangan kayu Kawasan Ekosistem Lau ser (KEL) secara ilegal di Aceh.
"Sehingga bencana banjir setiap tahunnya semakin parah terjadi di berbagai daerah di Aceh, ini perlu mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah Aceh, kalau tidak masyarakat yang akan menangung kerugian harta benda bahkan nyàwa sekalipun", ujar Nasruddin.
Selama ini sebut Nasruddin para cukong kayu memainkan berbagai modus operandi, seperti membentuk koperasi untuk membuka lahan dengan dalih untuk pemberdayaan masyakat , padahal yang terjadi ialah menebang kayu dan di jual keluar daerah.
"Bahkan kasus di Aceh Timur misalnya, ada oknum Kepala Desa menjual tanah Areal Penggunaan Lain (APL), padahal di atas lahan APL tidak dibenarkan diperjual belikan kepada pihak lain", ungkapnya melalui pers rilis kepada media Tribuananews.com, Senin (7/12).
Akibat perbuatan oknum kepala Desa tersebut kini hutan tersebut di babat habis dengan memunggunakan alat berat seperti, Buldozer dan Excavator jenis Grapple, (penjepit).
"Kawasan hutan tersebut harus benar-benar kita jaga bersama, karena merupakan wilayah "paru paru dunia". "Jangan biarkan perbuatan pengrusakan hutan itu terus berlangsung. Kalau petugas enggan membrastasnya, masyarakat harus mencegah dan menyelamatkannya", harapnya.
Lebih lanjut Nasruddin mengatakan , pembalakan hutan dikawasan Lueser yang merupakan hutan lindung, daerah Rawa Pertik, Aceh Timur ini jelas sangat bahaya dan dapat mengancam kelangsungan hidup Manusia, Flora dan Fauna.
"Apa yang dikerjakan petugas sektor kehutanan yang sudah diamanatkan Regulasi selama ini? Sehkngga kerusakan hutan seperti terabaikan dan terkesan para petugas hanya tutup mata saja", tanya Nasruddin.
Nasruddin minta kepada Pemerintah Aceh agar segera bertindak guna menyelamatkan hutan dari pelaku ilegal logging terkesan berdampak luas terhadap bencana dan sosial.*
Editor : Syahrudin AP

