TRIBUANANEWS.COM | Tolitoli - Proyek jembatan menuju pemukiman transmigrasi Dusun Kumba, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli yang berasal dari APBN 2019 tahap pertama senilai 6,2 miliar dikeluhkan masyarakat setempat.
Pasalnya, proyek jembatan dengan bentangan panjang 50 meter dan lebar 5 meter yang dikerjakan PT. Fajar Raya Nusa secara bertahap, dan di duga menggunakan pasir yang tidak masuk uji lab. Hal itu terungkap berdasarkan informasi seorang warga berinisial An (48).
Menurut An, proyek jembatan yang sudah di kerjakan secara bertahap tersebut sesuai penganggaran sejak tahun 2019 lalu. Namun sangat di sayangkan, pekerjaannya telah di ketahui menggunakan pasir yang bukan uji Lab. sehingga dapat dipastikan, kekuatan dan ketahanan jembatan tidak berlangsung lama. Belum lagi di bawah pondasi sudah berlubang.
"Adapun pasir yang digunakan mengambil di sekitar pekerjaan jembatan atau di sungai itu sendiri, dengan cara menyedot menggunakan alkon," ucap An kepada awak media ini.
Ia menambahkan, ada sekitar 400 kubikasi material yang mereka ambil dengan harga 80.000 perkubik. Seharusnya, harga pasir tersebut 150.000 jika di ambil dari Desa Tinigi yang sudah melalui uji Lab.
Terpisah, saat dikonfirmasi diruang kerjanya, selasa (27/10/2020), Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Transmigrasi Kabupaten Tolitoli Haris mengatakan, material yang ada di proyek tersebut memang didatangkan dari Desa Tinigi dan sudah melalui hasil uji Lab.
"Itu tidak betul, tapi yang lebih jelas tanya sama PPK nya. Kalau saya bisa pastikan bukan material (pasir-red) ) yang diambil disekitar area pekerjaan," tegas Haris.
Sementara, Abdullah Haruna, selaku PPK mengatakan, adapun sebagian pasir yang diambil dari warga digunakan pada susunan untuk pondasi sebelah (Abutment), itu bukan cuma untuk kegiatan jembatan Dusun Kumba saja, melainkan ada kegiatan proyek untuk perumahan transmigrasi di Desa Janja yang di kerjakan dengan satu perusahaan.
"Jadi tidak semua pasir yang diadakan dipakai pada pengerjaan jembatan tersebut, hanya sebagian untuk pondasi," ucapnya.*
Laporan : Agus
Editor : Hendra

