masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Probolinggo - Hadist Rasulullah yang diriwayatkan Muslim, dari Abu Dzar, Rasul bersabda. 'Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah) berpesan kepadaku, Jika engkau memasak masakan berkuah, perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik'.
Tajin sappar merupakan salah satu kuliner lezat yang sudah melekat erat pada masyarakat jawa sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha dan Walisongo. Keberadaan jenang selalu mewarnai tumbuh kembang masyarakat jawa sampai detik ini, khususnya di Kabupaten Probolinggo.
Memasuki bulan kedua Hijriyah, yakni bulan syaffar. Masyarakat Probolinggo pada umumnya melakukan tradisi tahunan yaitu sedekah 'tajin sappar' (bahasa maduranya, red), jenang sappar (bahasa jawanya), intinya sebuah sedekah bubur dibulan syafar yang dibagikan ke tetangga dan saudara.
Menurut Sri Sundari Warga Dusun Pandean, Desa Pabean Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo, mengatakan, tajin sappar/ jenang sappar memiliki filosofis dan simbol-simbol yang diyakini oleh orang jawa, selain sebagai rasa syukur kepada Allah atas rejeki yang diberikan, jenang sappar juga dijadikan simbol doa, persatuan, harapan, dan semangat masyarakat jawa.
"Kita harus ambil sisi positifnya saja dari sedekah tajin sappar ini, kesadaran bersama dan kerukunan akan tetap terjaga. Semoga kedepannya kita bisa tetap melakukan saparan, pastinya tanpa meninggalkan makna yang tersirat walau tak tersurat," ujar Sri Sundari ketika dikonfirmasi Media Tribuananews.com dikediamannya, Minggu (27/09/2020) siang.
Ditempat yang sama, Widayati (39) yang ater-ater (mengantarkan sedekah ke tetangga, red) merasa bahagia dan bangga bisa berbagi dan silaturrahmi dengan tetangga dan saudara.
"Sangat senang pak, dengan ater-ater ini saya bisa silaturrahmi dan terkadang saya dikasi uang sama saudara dan tetangga," tuturnya dengan wajah senang.
Tokoh Agama Islam Desa Pabean, Ustad Sukardi memandang dari kaca mata agama, mengatakan bahwa sedekah tajin sappar/ jenang sappar mengandung makna history religi. Dari sebuah kisah Nabi Musa a.s tatkala dikejar Fir'aun dan pasukannya, sampai pada pinggir laut merah, maka dibelahlah lautan merah dengan tongkat Nabi Musa atas ijin Allah.
"Maka atas ijin Allah, lautan merah terbelah menjadi daratan, dan Nabi Musa berserta kaumnya terlepas dari kejaran Fir'aun sampai kedaratan," paparnya.
Masih menurut Ustad Sukardi, setelah Nabi Musa selamat sampai ke daratan, giliran Fir'aun yang mengejar masuk ke laut merah, tenggelamlah Fir'au dan pasukannya di laut merah.
"Naah.. ini dijadikan qias dibulan syafar oleh orang Islam jawa, sebagai wujud syukur bebas dari bahaya," pungkasnya.*
Laporan : Taufiq



