• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Pembelajaran Di Masa Pandemi Covid-19

    12/08/20, 21:20 WIB Last Updated 2020-08-12T14:20:31Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini

    Penulis artikel : Mohamad Soleh Pelu, M.Pd

    Setiap manusia laki-laki dan perempuan wajib menuntut ilmu dari mulai kanak-kanak sampai akhir hayatnya. Belajar atau menuntut ilmu sangat dipentingkan karena memang manusia tanpa ilmu tak ada bedanya dengan hewan.

    Karena begitu pentingnya belajar atau berilmu, maka setiap insan dalam kondisi apapun harus belajar. Sepanjang hari sepanjang masa kita senantiasa harus memperkaya khasanah keilmuan kita jika tidak ingin tergerus oleh jaman.

    Terlebih pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, siapa saja dan dalam situasi apa saja. Kita tetap harus belajar.

    Keberadaan Covid-19 yang mengharuskan kita berada di rumah, tidak serta merta pembelajaran jadi terhenti. Justru situasi ini tidak hanya menuntut peserta didik tetap belajar, tetapi juga mengharuskan guru belajar.

    Belajar menggunakan aplikasi pembelajaran daring. Tidak ada satu pun yang dapat mengetahui kapan berkesudahannya wabah pandemi Covid-19 ini. Kondisi negeri sejak kehadiran Covid-19 terasa lengang dengan adanya penutupan sekolah-sekolah.

    Salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah dalam mengatasi ditutupnya sekolah selama wabah pandemi Covid-19 ini berlangsung, yaitu dengan melakukan pembelajaran dari rumah.

    Peserta didik dan guru melakukan proses belajar mengajar dari rumahnya masing-masing. Tujuannya adalah mencegah meluasnya penyebaran virus Covid-19. Pembelajaran dari rumah dapat dilakukan secara daring ( dalam jaringan ) dan luring ( luar jaringan ).

    Pembelajaran daring ini dapat terjadi dengan adanya fasilitas jaringan internet. Metode pembelajaran daring ini tidak hanya mengharuskan peserta didik belajar, tetapi juga gurunya diharapkan belajar menggunakan aplikasi pembelajaran daring.

    Pembelajaran daring bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan. Ini sudah dimulai dari diklat guru secara daring. Namun pada kenyataannya pelatihan itu tidak murni dilakukan secara daring, karena ada sesi tatap mukanya secara langsung.

    Pengalaman dari seorang guru yang mengikuti kegiatan daring ini adalah kesulitan dalam penggunaan tehnologinya selain karena minimnya jaringan yang tersedia.

    Pembelajaran menjadi sedikit tersendat. Begitu pun yang terjadi dengan pembelajaran daring siswa di masa pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung saat ini. Hampir tiga bulan seluruh peserta didik belajar dari rumah ( BDR ).

    Ini bukan perkara mudah menghadapi pembelajaran tanpa melakukan tatap muka secara langsung. Kendala terbesar adalah pada kemampuan individu, baik peserta didiknya maupun gurunya memanfaatkan tehnologi dalam jaringan.

    Pada awal pemberlakuan pembelajaran melalui daring, guru-guru harus bergegas belajar berbagai aplikasi pembelajaran yang dapat dilakukan peserta didik dari rumahnya. Guru dan peserta didik begitu bersemangat mengikuti pembelajaran daring ini.

    Namun, setelah berjalan beberapa minggu terlihat adanya penurunan semangat peserta didik. Beberapa faktor penyebabnya, antara lain: peserta didik mulai merasa bosan, pemanfaatan handphone bukan hanya untuk pembelajaran, dan belajar tidak menggunakan jadwal.

    Oleh karena hal itu guru bekerjasama dengan orang tua mengatur jadwal belajar peserta didik dan bersama-sama memantau perkembangan belajar siswa di rumah.

    Faktor yang paling penting dari keberhasilan pembelajaran daring adalah perangkat pembelajaran daring, seperti handphone dan laptop. Ini merupakan satu-satunya alat yang dapat dijadikan sebagai komunikasi antara guru dan peserta didik.

    Sementara bagi peserta didik yang tidak memiliki alat komunikasi diberlakukan pembelajaran luring. Mekanismenya adalah guru mendatangi rumah peserta didik dan memberikan tugas-tugas dari guru-guru. Hasilnya dibuat dalam bentuk portofolio yang akan diambil kembali oleh guru atau meminta peserta didik menyerahkannya ke sekolah.

    Cara lainnya peserta didik diminta datang ke perpustakaan sekolah untuk melakukan proses pembelajaran. Tentunya dengan mengikuti prosedur protokoler keamanan penyebaran Covid-19.

    Untuk mengatasi kendala yang dihadapi saat kebijakan pembelajaran dari rumah diberlakukan adalah meramu suatu kegiatan pembelajaran yang diminati siswa.

    Berbagai sarana belajar di rumah telah disediakan oleh Pemerintah selain menggunakan berbagai aplikasi yang telah tesedia sebelumnya, seperti google classroom, edmodo, telegram, zoom meeting, dan skype, serta media belajar melalui televisi, TVRI dan radio.

    Materi yang diberikan kepada peserta didik harus dibuat sesederhana mungkin yang dapat dipahami meski tanpa melalui penjelasan secara audio visual.

    Materi belajar di rumah pun tidaklah harus materi yang bersifat teori, tetapi juga bersifat penerapan. Contoh : penerapan nilai kebaikan dalam pelajaran agama dan PKN berbentuk ibadah dan membantu orang tua di rumah, menyapu, mencuci piring, menjalin hubungan yang lebih harmonis dengan orang tua dan keluarga di dalam rumahnya.

    Selain itu tugas yang diberikan kepada peserta didik dapat berupa menggambarkan kegiatan belajarnya dalam bentuk gambar dan tulisan ( karangan ). Hasil gambar dan karangannya dilombakan. Di sinilah peran guru terhadap peserta didiknya dalam menjaga semangat belajarnya.

    Pembelajaran di masa pandemi Covid-19 menuntut guru dapat mensiasati metode pembelajaran yang dapat menjaga semangat belajar peserta didik belajar di rumah. Guru pun harus dengan cepat dapat menyampaikan kepada peserta didik mekanisme pembelajaran di rumah.*
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan