• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Dimasa Pandemik Covid-19, SD Negeri 100608 Sijungkit Belajar Luring

    Admin,Tapsel/P.Sidimpuan
    20/06/20, 21:56 WIB Last Updated 2020-06-20T19:34:47Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini

    TRIBUANANEWS.COM | Tapanuli Selatan - Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia secara nasional mulai Bulan April kemarin sampai saat ini, aktivitas atau kegiatan yang melibatkan kerumunan orang banyak ditiadakan sementara. Termasuk kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah berbagai tingkatan.

    Walau KBM di sekolah formal ditiadakan, bukan berarti siswa berhenti belajar. Sekolah Dasar Negeri 100608 Sijungkit Kecamatan Batangangkola Kabupaten Tapanuli Selatan menerapkan luring (offline) sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang.

    Demikian disampaikan Kepala SD N 100608 Sijungkit Muhammad Nur, S.Pd, MM  Kepada awak media online di ruang kerjanya Sabtu (20/6).

    "Untuk pelajar SD N 100608 Sijungkit tidak bisa belajar daring ( online ) karena keterbatasan kondisi ekonomi orangtua siswa/i tidak mampu beli HP android, dan Paket sebab mayoritas mata pencarian warga adalah penderes karet. Harga karet yang anjlok rendah hanya Rp 4000/Kg," ujarnya.

    Sehingga guru, lanjutnya, terpaksa mendatangi rumah peserta didik ke rumah masing masing. Saat belajar di rumah peserta didik di dokumentasikan oleh guru yang bersangkutan sebagai bukti telah mengajar secara Luring (ofline).

    “Tidak ada libur belajar selama pandemi Covid-19, hanya tidak bejalar di sekolah saja. Peserta didik SD N 100608 Sijungkit  tetap belajar di rumah dengan sistem  luring,” kata Kepsek.

    Ditambahkan Kepsek, "belajar luring belajar secara manual yakni siswa dan guru tetap bisa bertemu di sesuatu tempat yang disepakati".

    Untuk belajar luring, tambah dia, siswa dan guru harus bisa bertemu menyampaikan materi. Namun pertemuan akan dibatasi serta diatur jaraknya. Bahkan para siswa dan guru tetap menggunakan masker selama KBM.

    Muhammad Nur menegaskan luring, siswa dalam satu kelas akan dibagi dalam kelompok belajar. Kalkulasi pembagian kelompok belajar juga tergantung jumlah guru dan siswa.

    “Namun satu kelompok maksimal ada 4 sampai 6 siswa yang dan didampingi satu guru mata pelajaran,” pungkasnya.*

    Editor : Ibnu Saad
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan