• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Bakar Ponton: Kegiatan Anarkis Komunitas Akar Bakau Pembodohan Publik Fordas Oleh Yudi Senga

    21/06/20, 12:57 WIB Last Updated 2020-07-03T11:33:55Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini


    TRIBUANANEWS.COM | Belitung Timur - Manggar Sabtu (20/06/2020), Gerakan Fordas dan Komunitas Akar Bakau, Kk (anggota DPRD Beltim) bersama Yudi Senga (Yudi Amsoni) membakar ponton TI rajuk yang berada di lokasi sekitar Sungai Manggar jelas anarkis dan melanggar hukum serta gerakan ini adalah perbuatan melawan hukum karena bertindak seolah-olah aparat melebihi penegak hukum. Minggu (21/06/2020)

    Anggota ASTRADA (Asosiasi Tambang Rakyat Daerah)  Yudiansyah atau biasa dipanggil "Yudi Rambo bersama Bendahara ASTRADA Yono" turun bicara terkait hal tambang di Sungai Manggar Desa Sukandi Yudi Rambo menegaskan, Banyak orang di Beltim sudah lupa dan generasi baru yang saat ini sedang getol-getolnya berkomentar di FB belum lahir atau dewasa pada saat itu, namun masih ada yang ingat bahwa And di masa lalu adalah inisiator kapal isap yang beroperasi di pantai lalang manggar di zaman Bupati Ahok. Sebagai orang kampit, justru And " kuman di seberang lautan terlihat, gajah di pelupuk mata tak nampak " bahwa saat ini kegiatan penambangan merusak bakau sedang berlangsung secara masif di pantai selendang. Belum lagi bakau- bakau purba di masa lalu yang dibabat untuk kepentingan perusahaan sawit yang eksis menopang ekonomi kecamatan kampit di Tanjung keluang.

    TKP pembakaran ponton oleh Yudi Senga dan Kk kemaren adalah wilayah APL yang dimiliki oleh pengusaha Antoni Mulia/ Acang dan Apocai dimasa jaya usaha kaolin & batu besi. Tentunya memiliki dokumen yang cukup untuk mendukung usahanya tersebut. Bahkan jalan dan pelabuhannya dikenal dengan sebutan " Jalan dan Pelabuhan Acang ".

    Pemberitaan yang tidak berimbang oleh media tertentu dari narasumber yang memang memposisikan dirinya dari awal kontra tambang dan syahwat tokoh-tokoh politik menjelang pilkada tentunya sangatlah disayangkan. Khusus kegiatan ponton TI Rajuk di daerah sungai Manggar tidaklah seburuk yang digembar-gemborkan oleh Yudi senga dan Kk, jika semua pihak terkait fair, berfikiran waras dan berbicara dengan mengacu data- data akurat serta fakta- fakta yang ada di lapangan.

    Rasanya pantas jika dikatakan " jurus mabuk Yudi Senga Amsoni dan Pembodohan Publik Fordas oleh Kk " ditelan bulat-bulat oleh komunitas nelayan Sungai Manggar.

    "Kk pun sama, di ujung gunung malang lepau, saat ini juga sedang berlangsung kegiatan penambangan yang merusak bakau. Semua orang bisa saja menghakimi dan berpendapat sesuka hati. bisa saja dianggap melupakan jatidirinya ,"kata Yudi Rambo. 

    Perlu diketahui bersama bahwa lokasi pembakaran ponton kemaren adalah wilayah APL yang memiliki kelengkapan dokumen karena dimiliki pengusaha penambangan pasir kuarsa dan batu besi sebagai area stockpile dan pelabuhannya di saat masih eksis beroperasi di masa lalu.

    Dalam RDP beberapa waktu yang lalu di gedung DPRD Beltim, secara terang benderang disimpulkan bahwa Fordas  tidaklah memiliki kewenangan Eksekusi, yang ada hanyalah fungsi Edukasi dan Monitoring.

    Celakanya Yudi Senga dan KK terus menerus mencari panggung dan bahan cerita agar tetap eksis di medsos dengan aksi aksi konyol dan melanggar hukumnya. Ditambah bumbu-bumbu politik.oleh pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu ikut bermanuver politik mengingat pilkada sudah dekat. Meminjam istilah Bang Dudung yang tumben benar kali ini, banyak orang politik saat ini " Maling teriak Copet ".

    Sangat disayangkan, publik saat ini khususnya di media sosial sangat senang dipertontonkan dengan aksi " jurus mabuk " Yudi Senga dan pembodohan publik Fordas oleh KK.

    Diwaktu yang sama "Yono Bendahara Astrada" ikut berkomentar keras, jumlah masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari penambangan timah lebih besar daripada jumlah PNS, polisi dan  anggota DPRD Beltim.

    Dalam keterpurukan ekonomi akibat situasi covid saat ini harusnya semua pihak berfikiran waras. Kritik bahkan hujatan sering kali dialamatkan ke penambang dan dunia pertambangan timah. Padahal dari lubuk hati kita yang paling dalam, sampai saat ini kita masih mengakui bahwa timah masih menjadi urat nadi penggerak ekonomi masyarakat Beltim. Kalangan dunia usaha tentu mengakuinya bahwa saat harga timah murah dan penambang timah banyak yang tidak bekerja, daya beli masyarakat pun ikut merosot. Jika hanya mengharapkan daya beli dari kalangan PNS, Polisi & anggota DPRD saja tentunya roda ekonomi tidak akan berjalan sempurna.

                     Peta Lokasi Sungai Manggar

    Hal-hal yang kurang hanyalah bersifat administratif karena belum memiliki izin tambang yang disebabkan berbagai faktor. Lokasi ponton di Desa Sukamandi yang terdiri dibeberapa titik meliputi Pelabuhan Acang, Kandang Sapi, Kandang Ayam, Pulau Kambing, Pok Putus adalah masuk dalam wilayah APL & IUP PT Timah.

    "Benci Penambang Tapi Uangnya Dirindukan " adalah judul sandiwara yang sedang berlangsung di Beltim.

    Dari rekaman video di TKP terlihat anak-anak, ibu-ibu, penjual ikan di pasar manggar, nelayan perahu laut tengah ikut hadir. Apakah mereka mengerti tentang data, fakta, wawasan dan pendidikan yang cukup untuk menilai bahwa kegiatan penambangan ponton TI Rajuk merusak lingkungan, berdampak sosial dan melanggar hukum?

    Selama ini kami para penambang ponton cukup kompak menahan diri agar suasana tetap kondusif. Mereka mencari nafkah bukan mencari keributan,"geram Yono. 

    Lamanya proses pengajuan izin Spk di PT Timah, berbelitnya prosedur perizinan tambang di Pemerintah, gamangnya pihak-pihak terkait dalam mengambil sikap, membuat penambang selalu menjadi pihak pesakitan.

    Laporan Suhartonopitoytsl

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan