• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Renungan Ramadhan Ditengah Pandemi Covid-19, Yang Disukai Belum Tentu Baik, Yang Dibenci Bisa Jadi Membawa Kebaikan

    06/05/20, 05:05 WIB Last Updated 2020-05-05T22:08:09Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini


    Penulis : Mursali Bachtiar

    Sahabat Tribuananews yang budiman, Bulan Suci Ramadhan ditengah pandemi Covid-19 ini mari kita kembali introspeksi dan evaluasi diri. Kita yakin, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Tiap-tiap penyakit pasti ada obatnya, pasti ada cara pencegahannya, sekalipun itu virus yang mematikan. Hanya saja persoalannya, mau atau tidak kita sembuh dari penyakit, mau atau tidak kita mencegahnya, mau atau tidak kita bangkit dari keterpurukan ini.


    Belum hilang dari ingatan kita, Presiden Joko Widodo pertama kali menyampaikan melalui konferensi pers di Istana Negara, pada Senin (2/3/2020), bahwa ada orang Jepang yang datang ke Indonesia kemudian tinggal di Malaysia dan setelah dicek di sana ternyata positif Corona (Covid-19).

    Kemudian Tim dari Indonesia langsung menelusuri dengan siapa saja orang Jepang tersebut melakukan kontak selama di Indonesia. Dan ternyata, ada WNI yang terinfeksi Covid-19 dikabarkan berjumlah dua orang, tepatnya seorang ibu berusia 64 tahun dan puterinya yang telah menginjak 31 tahun, warga Kota Depok.

    Setelah itu, kemudian Covid-19 merebak di Indonesia hingga saat ini. Banyak orang yang merasa khawatir yang teramat sangat. Kekhawatiran akan tertular dan terjangkit Corona alias Covid-19 yang konon katanya berbahaya bagi kesehatan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

    Tapi, kita coba lupakan sejenak soal horor Covid-19 ini, kita coba santai sejenak, rileks diam di rumah sambil mengevaluasi semua cerita dan informasi soal Corona ini. Perhatikan imbauan pemerintah terkait bagaimana melakukan pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran Corona.

    Salah satu caranya bisa dengan menghindari kerumunan orang, menggunakan masker dan sarung tangan saat bepergian, atau ekstremnya Stay Home  atau diam di rumah. Atau bisa juga selalu isi separuh piring makan anda dengan sayur mayor dan buah, dengan kata lain, makan gizi seimbang akan tingkatkan kekebalan tubuh untuk melawan virus Corona. Sesuai pesan singkat yang disampaikan Gugus Tugas melalui SMS yang kita terima melalui handphone.

    Amati dan cermati beberapa imbauan terkait pencegahan Corona tersebut, betapa mudah dan tidak sulit. Namun, kendati mudah dan tidak sulit, kabar tentang orang yang terpapar atau positif terjangkit Covid-19 ini selalu kita dengar bahkan jumlahnya terus bertambah.

    Pemerintah berulangkali mengingatkan kita agar tidak panik kendati harus tetap waspada. Tetapi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah dilakukan hampir di setiap pelosok Indonesia. Masyarakat disetiap daerah di “paksa” diam dirumah dengan dijanjikan akan diberikan bantuan alakadar semisal sembako atau uang tunai yang jumlahnya jauh dari kata cukup. Itupun tidak semua orang dapat karena ada kriteria khusus seseorang bisa mendapatkan bantuan tersebut.

    Bahkan tak ayal program bantuan pemerintah inipun dirasa menambah kekhawatiran dan kepanikan masyarakat. Ya, khawatir dan panik tidak mendapat bantuan yang dijanjikan. Dan tidak dapat dipungkiri, nyatanya hingga saat ini masih banyak orang yang sudah di data akan menerima bantuan namun tangan masih tetap hampa.

    Kita coba lupakan sejenak soal bantuan pemerintah tersebut, kembali pada pokok permasalahan bagaimana cara mencegah atau memutus mata rantai penyebaran Corona. Seperti yang telah diulas diatas, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan bahkan cenderung mudah dan tidak sulit untuk dilakukan.

    Stay Home atau diam dirumah seperti menjadi kata kunci akhir untuk memberantas virus Corona ini. Jika di pikir memang tidak sulit, akan tetapi bisa juga berat jika diam dirumah saja tanpa bekal kebutuhan perut yang memadai. Ya, “bagai buah si malakama”, melangkah keluar rumah khawatir Corona, diam dirumah saja perut lapar. Ini realistis, faktanya memang seperti itu.

    Kita coba lupakan sejenak soal “buah si malakama”, kita kembali pada pokok permasalahan yaitu menghentikan laju penyebaran virus Corona secara efektif dan cepat. Bagaimana caranya, pemerintah sudah memberikan imbauan kepada kita semua seperti yang penulis sampaikan diatas.

    Sahabat Tribuananews yang budiman, Bulan Suci Ramadhan ditengah pandemi Covid-19 ini mari kita kembali introspeksi dan evaluasi diri. Kita yakin, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Tiap-tiap penyakit pasti ada obatnya, pasti ada cara pencegahannya, sekalipun itu virus yang mematikan. Hanya saja persoalannya, mau atau tidak kita sembuh dari penyakit, mau atau tidak kita mencegahnya, mau atau tidak kita bangkit dari keterpurukan ini.

    Dalam Kitab Suci Al Qur’an, Surat Ar Ra’d ayat 11, Allah SWT, Berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”.

    Kita bisa atasi wabah Covid-19 ini, jika kita mau. Mau dan bersungguh-sungguh secara bersama, pemerintah dan rakyat saling mendukung dan bersinergi secara adil, merata, arif dan bijaksana. Apa pun kondisi kita saat ini, jika kita mau melakukan, kita mau berubah, maka kita harus mengubahnya dari diri sendiri.

    Jika kita bersungguh-sungguh mau merubah, maka Allah akan mengubah kita. Inilah yang terkadang sering dilupakan, banyak yang berharap orang lain atau yang di luar berubah, tetapi melupakan diri sendiri yang diubah.

    Ayat tersebut memotivasi kita untuk mengubah diri kita, maka yang lain akan berubah atas bantuan Allah. Jangan hanya menuntut yang di luar diri berubah. Karena kita jauh lebih mudah mengubah diri sendiri, dari pada mengubah orang lain. Ayat ini adalah motivasi bagi kita untuk mengatasi bencana wabah Corona.

    Dimulai dari diri kita, mari stop dan putuskan mata rantai Corona dengan berada dirumah, beribadah dirumah, berpuasa Ramadhan dirumah. Kita berikan kesempatan pada pemerintah untuk bekerja secara leluasa tanpa kepanikan yang berlebih sehingga mereka mampu berpikir jernih dalam mendistribusikan segala bentuk bantuan yang kita butuhkan selama Stay Home.

    Kebaikan di balik yang tidak kita sukai

    Sahabat Tribuananews yang budiman, sering kali, saat kita mendapati sesuatu yang tidak di sukai, maka kita marah, kecewa, sedih, ngomel, dan akhirnya putus asa. Padahal, bisa jadi apa yang tidak kita sukai itu malah baik adanya. Imbauan pemerintah soal Stay Home atau diam dirumah, barangkali menjadi sesuatu yang tidak kita sukai, tapi bisa jadi ini yang terbaik bagi kita.

    Dalam Surat Al Baqarah, ayat 216, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216).

    Hendaknya kita selalu Husnudzan, berperasangka baik terhadap sesuatu yang tidak kita sukai. Berdiam diri dirumah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu yang tidak kita sukai, namun itu bisa menjadi yang baik bagi kita. Atau kita senang jika keluar rumah, tapi hal itu bisa saja menjadi yang buruk bagi kita, terlebih ditengah pandemi Covid-19.

    Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi. Untuk itu, syukuri apa pun yang terjadi saat ini termasuk larangan dan kekecewaan lainnya.

    Kita pasti sanggup

    “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS. Al-Baqarah: 286).

    Jika anda mengatakan, “saya tidak akan sanggup”, sebenarnya anda sudah mendahului Allah. anda sok tahu, bahwa anda tidak akan mampu. Kata siapa? Itu hanya pemikiran negatif anda. Bisa karena malas, manja, atau cengeng.

    Padahal jelas, dalam ayat di atas bahwa kita tidak akan dibebani beban apa pun kecuali sesuai dengan kesanggupan kita. Jika kita berpikir tidak sanggup, itu hanya anggapan kita saja.

    Kita pasti sanggup jika kita menyanggupinya. Jangan kalah oleh pikiran negatif yang dengan mudah mengatakan tidak sanggup.

    Kemudahan dibalik kesulitan

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6).

    Kebanyakan orang, saat menghadapi kesulitan, dia berhenti alias menyerah. Ada juga yang mengeluh, berharap orang lain mau membantunya mengatasi kesulitan dia. Padahal, bersama kesulitan itu adalah kemudahan.

    Jika kita menghindari kesulitan, kita tidak akan mendapatkan kemudahan. Jika kita berharap orang lain yang mengatasi kesulitan, maka kemudahan akan menjadi milik orang lain. Kita tidak akan mendapatkan kemudahan dari kematangan, keterampilan, dan pengalaman yang didapatkan.

    Kita Takwa dan Tawakal hadapi kesulitan

    Takwa dan Tawakal, dua akhlak ini luar biasa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya. Sedang menghadapi masalah atau tantangan besar? Butuh jalan keluar? Maka bertakwalah, Allah akan memberikan jalan keluar juga rezeki yang tidak kita sangka.
    Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ath Thalaq, ayat 2-3, yang artinya, “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya,” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

    Jika kita tawakal, Insya Allah kita akan dicukupkan, termasuk dicukupkan segalanya untuk menghadapi rintangan, halangan, tantangan, dan juga musibah wabah Corona. Wallahu A'lam Bishawab.*

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan