masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM | Probolinggo - Rapat Kordinasi (Rakor) pelaku jasa Wisata Alam Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), yang di pimpin oleh Kepala Bidang Tehnik Konservasi BBTNBTS Pudjiadi. Dalam rangka menghormati Adat dan Budaya lokal.
Di Aula Hotel Lava View Cemoro Lawang, Rabu (08/01/2020), di hadiri oleh Instansi terkait dan beberapa perwakilan dari pelaku jasa wisata Bromo. Yang menghasilkan 12 poin kesepakatan.
Dalam menghormati kearifan lokal Masyarakat Suku Tengger melaksanakan "Megengan Ulan Kapitu", dan karena kawasan Kaldera Tengger merupakan Tempat Suci Masyarakat Tengger, BBTNBTS melarang kendaraan bermotor melintas di area laut pasir Gunung Bromo, yang akan di berlakukan tanggal 24 Januari 2020 sampai tanggal 25 Februari 2020.
Latar belakang penutupan ini salah satunya adalah, kesepakatan pada tahun 2018, yang ditindak lanjuti terakhir di Mei tahun 2019. Disitu di sebutkan sekaligus, dalam rangka menghormati Adat.
"Kita ini sudah ada pengelolaan 'Kawasan konservasi' dengan paradigma baru, yang salah satunya adalah menghormati Budaya dan Adat. Nah pada saat ini kebetulan lagi ada namanya Ulan Kapitu Suku Tengger, disitulah kita bisa menghormati Budaya dan Adat tersebut. Sekaligus untuk pemulihan ekositem terhadap kawasan Bromo yang selama ini cukup lama di kunjungi Wisatawan, sehingga inginlah kita perbaiki dalam satu bulan ini," terang Pudjiadi kepada awak Media.
Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke Objek Wisata Gunung Bromo tetap seperti biasa. "Wisatawan di sarankan menggunakan transportasi kuda, sepeda atau berjalan kaki, dari tempat kendaraan bermotor yang di perbolehkan," imbuh Pudjiadi.
Bulan puasa Suku Tengger jatuh di Bulan ke tujuh menurut kalender Tengger, yang mereka sebut "Ulan kapitu" atau "Pujan kapitu". Di awal dan di akhir Bulan Kapitu, Masyarakat Tengger berpuasa Megeng. Berpuasa di tempat yang sepi.
"Dan di hari ke 2 sampai hari ke 29 mereka akan puasa "muteh" yang artinya boleh makan nasi putih tetapi sedikit saja. Dipertengahan bulan, hari ke 15 mereka akan berhenti dalam sehari. Yang bertepatan dengan Bulan Purnama," jelas salah satu Tokoh Masyarakat Suku Tengger Joko Trisno kepada Media Tribuananews.com.
Di hubungi terpisah oleh Awak media Tribuananews.com, Arif salah satu pelaku jasa Wisata paguyuban Jeep Bromo menyampaikan, "Saya menghormati Masyarakat Tengger ini berpuasa. Sebenarnya kalau mau menutup, tutup mulai dari pemukiman penduduk," jelas Arif.* (Andri)

