masukkan iklan disini
Oleh : MS. Pelu
Digantinya Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Kompetensi dan Survey Karakter merupakan penyederhanaan beban belajar peserta didik dan akan lebih memberikan kesempatan hak mengembangkan minat bakat yang muaranya mengacu kepada pengembangan potensi diri siswa.
Dapat diasumsikan bahwa sistem Pendidikan Nasional yang diterapkan sekarang kepada peserta didik mengacu kepada PISA/Literasi, Numerasi, Plus Satu Survey Karakter.
Gebrakan Mendikbud sudah merubah imag yang telah berlaku sebelumnya, tentang mengapa hanya beberapa materi pelajaran saja yang di UN kan, sedangkan semua materi pembelajaran merupakan Sumber Dasar Ilmu Pengetahuan.
Logikanya semua materi pembelajaran sangatlah penting dan peserta didiklah yang menjadi penentu sangat berbobotnya materi pembelajaran yang mereka terima, mengingat merekalah yang akan mengembannya sebagai pola dasar bekal kemampuan mandiri yang yang dibawanya sebagai Life Skill.
Satu contoh meteri pembelajaran Olah Raga dijenjang Tingkat TK dan SD sangat baik selain khusus materi Kebugaran juga khususnya pada kelas 1, 2 dan 3 SD diberikan materi semua cabang Olah Raga
Sesuai dengan Tekad Presiden ingin memprioritaskan Kemajuan SDM disegala bidang, maka sudah saatnya pada bidang Olah Raga diterapkan sistem/pola terbaru dalam menghasilkan SDM yang Sehat serta Unggul bidang Olah Raga, baik yang siap pakai maupun basic awal mempersiapkan atlit Olah Raga sejak usia dini.
Potensi calon atlit Olah Raga di indonesia sangatlah banyak, tinggal bagaimana metode mempersiapkan calon atlit dibarengi melalui jenjang pendidikan formal.
Dengan kata lain untuk pelajaran Olah Raga di tingkat pendidikan SD sejak kelas 1 sampai kelas 2 dan 3 diterapkan materi pelajaran Kebugaran, sudah mulai diterapkan minat bakat dibidang Olah Raga pada kelas 4 SD dilakukan penyaringan jurusan/minat bakat.
Seperti diketahui bersama saat ini Guru Olahraga di Indonesia sudah hampir 100% adalah sarjana Olah Raga dan dalam menempuh perkuliahan hampir seluruh cabang Olah Raga didapat, maka Guru Olah Raga sudah pasti mampu melakukan tes minat bakat kepada peserta didiknya.
Singkatnya ketika peserta didik memasuki jenjang SLTP sudah pasti akan senang mengikuti kegiatan Olah Raga dan akan memilih jurusan yang sudah dikuasainya sejak SD. Bukan tidak mungkin dijenjang SLTA Siswa sudah mahir satu bidang Olah Raga yang sudah digelutinya sejak dijenjang SLTP.
Dari sejak SD Kelas 4 hingga lulus SLTA minimal peserta didik sudah melakukan gerak olah tubuh pada bidang Olah Raga jurusan minimal 360 Kali, maka sudah tentu akan mahir dalam bidang Olah Raga jurusan.
Jika dijenjang Universitas ada 4 % Siswa Tamatan SLTA yang masuk ke Jurusan Olah Raga maka dapat dipastikan Mahasiswa dimaksud sudah memiliki skill yang mumpuni dalam jurusan keterampilan Olah Raga yang dipilihnya, dengan demikian potensi dari lulusan SLTA yang tidak memasuki jenjang pendidikan/bukan Olah Raga sudah tersebar SDM bibit unggul atlit tingkat Daerah dan Nasional.*

