• Jelajahi

    Copyright © Monitor Nusantara News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Ida Pedanda Sikara: Tugas Sulinggih Mensejahterakan Kehidupan Masyarakat Melalui Jalur Spiritual

    admin
    22/01/20, 10:26 WIB Last Updated 2020-01-22T03:26:56Z
    masukkan iklan disini
    masukkan iklan disini
    TRIBUANANEWS.COM | Klungkung, Madiksa adalah upacara penyucian diri baik secara lahir dan batin dari seorang Walaka (orang biasa) menjadi orang suci pendeta atau sulinggih. Upacara Madiksa termasuk dalam upacara Rsi Yadnya atau upacara pengorbanan suci. Madiksa disebut juga dengan Madwijati yang artinya kelahiran yang kedua kali. Seseorang yang akan menjadi pendeta wajib mengikuti upacara ini, karena akan memberikan pengajaran bagi dirinya sendiri dan orang lain.

    Ida Pedanda Sikara didampingi Ida Pedanda Jineswari ketika dikunjungi Kepala Perwakilan Tribuananews.com Provinsi Bali di Griya Budha Purnawati Tusan Banjarangkan Klungkung mengatakan fungsi sulinggih adalah memimpin warga dalam upaya mencapai kebahagiaan rohani sesuai dengan perannya sebagai guru loka atau ngelokaparasraya yaitu menjadi tempat bertanya tentang kerohanian, penuntun dan pengayom masyarakat di bidang Agama Hindu, memberi petunjuk dan bimbingan di bidang tattwa, susila dan upacara, muput upacara ritual atas permintaan warga. "Tugas sulinggih mensejahterakan kehidupan masyarakat melalui jalur spiritual," jelasnya.

    Ida Pedanda Sikara memaparkan, kewajiban sulinggih pada umumnya disebut sasana kawikon atau dharmaning kawikon terdapat pada Lontar Krama Madiksa yakni sepuluh kewajiban (dasa krama paramartha), yaitu Tapa (teguh memuja Hyang Widhi), Brata (membatasi indra), Yoga (menyeimbangkan Stulasarira dengan Suksmasarira), Samadhi (memusatkan pikiran kepada kebesaran Hyang Widhi), Santa (berpikir, berkata, dan berbuat serba tenang damai), Sanmata (berperasaan riang gembira), Maitri (senang mengatakan yang baik dan benar), Karuna (senang bertukar pikiran dengan sesama dan menyayangi semua mahluk), Upeksa (tahu perbuatan yang baik dan buruk serta memberi bimbingan kepada yang bodoh dan yang salah), Mudhita (mencintai kebenaran serta berbudi luhur).

    Ida Pedanda Sikara menjelaskan, disamping itu juga kewajiban seorang sulinggih adalah Arcana (memuja Hyang Widhi setiap hari dalam bentuk Njurya Sewana), Adhyaya (tekun belajar mendalami Weda, Tattwa, Susila, Upacara), Adhyapaka (suka mengajar hal - hal tentang Hyang Widhi dan kesucian), Swadhyaya (rajin belajar hal - hal yang diberikan Nabe), Dhyana (merenungkan Hyang Widhi serta hakekat kehidupan).

    Sulinggih mampu memberikan Dharmawacana dan Dharmatula karena itu merupakan sasana kawikuan, termasuk arti luas dari “ngelokaparasraya”. Tentunya menjadi seorang Sulinggih sungguh berat, karena harus memenuhi kriteria utama dalam kesucian, kecerdasan, kepandaian dalam berbicara, berdialog, kesehatan atau kekuatan fisik, penampilan, ramah - tamah, sabar, cinta kasih, kepemimpinan (leadership) dan kewibawaan.

    "Sulinggih adalah seorang yang mempunyai kemampuan dan minat khusus misalnya ada yang senang kesusastraan, disebut Wiku Kawi, ada yang senang dharma wacana dan dharma tula disebut Wiku Acarya, ada yang sibuk hanya “muput karya” disebut Wiku Pemuput Karya, ada yang madiksa untuk kepentingan kesucian diri sendiri, tidak melayani publik disebut Wiku Ngeraga," jelas Ida Pedanda Sikara.

    Ida Pedanda Sikara menyatakan, loka artinya masyarakat, para artinya melindungi, dan sraya artinya dekat bersandar. Jadi lokaparasraya artinya tempat berlindung mencari kedamaian dan ketentraman serta tempat bersandar masyarakat dan menjadi pengayom, pembela, panutan, pendidik masyarakat. Sulinggih menyebut dirinya “Bapa” sedangkan Bapa dalam Kekawin Nitisastra mempunyai kewajiban antara lain Matulung Urip Rikalaning Bhaya artinya menyelamatkan jiwa anak - anaknya tatkala ada ancaman bahaya.

    "Keselamatan jiwa dalam pengertian spiritual termasuk ancaman adharma, karena bila seseorang berlaku adharma, jiwanya terancam bahkan dapat berumur pendek dan kemudian rohnya mengalami siksaan neraka, padahal tugas manusia dalam kehidupan di dunia adalah melaksanakan dharma agar di suatu saat kelak roh (Atman) sudah bersih sehingga dapat bersatu dengan Brahman (Ida Sanghyang Widhi Wasa)," kata Ida Pedanda Sikara.

    Lebih lanjut Ida Pedanda Sikara menegaskan tugas sulinggih ngelokaparasraya intinya adalah membantu manusia agar senantiasa ada di jalan dharma, jadi bukan hanya muput karya saja. "Tugas muput - muput karya hanya sebahagian kecil dari tugas - tugas mulia lainnya. Salah satunya yaitu mencegah pelaksanaan upacara adat dan keagamaan yang bisa memiskinkan umat, sedapat mungkin harus diupayakan bisa mencegah upacara adat yang jor - joran hanya gara - gara demi gengsi. Sebab, upacara yang jor - joran berdampak terhadap memiskinkan umat, contohnya pada upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya yang kerap digelar dengan megah demi gengsi," pinta Ida Pedanda Sikara. (Udiana)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Iklan