masukkan iklan disini
TRIBUANANEWS.COM I Ketapang - Ulang tahun Paguyuban Jawa Ketapang berlangsung di rumah Joglo, yaitu rumah adat masyarakat jawa yang ada di Kabupaten Ketapang, yang beralamat di Jl. Lingkar Kota (Sebelah Hutan Kota), Kelurahan Sukaharja Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang, serta dihadiri langsung oleh Bupati Ketapang Martin Rantan, SH.,M.Sos. rabu (19/08 ).
Rumah Joglo, dimana setahun yang lalu tepatnya pada Senin tanggal Lima Agustus tahun 2019, bupatilah yang melakukan yang peletakan batu pertama pembangunannya, dan kini setelah setahun berdiri, kemudian diadakan kenduri, pun juga dihadiri oleh Bupati.
Penyelenggaraan acara ditandai dengan Kenduri Ageng (baca : kenduri besar), yang mana PJKT membuat tumpeng ukuran ageng (besar) dengan mengambil tema dalam bahasa jawa, " Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara” yaitu filosofi masyarakat jawa tentang ajakan untuk berbuat kebaikan dan menolak segala bentuk keburukan atau kejahatan atas kuasa Tuhan.
Dalam sambutannya, bupati mengatakan bahwa peran serta masyarakat jawa di Kabuaten Ketapang dari semenjak dahulu hingga sekarang sangat besar, baik dalam hal pembangunan manusia maupun pembangunan lainnya.
Secara emosional, bupati mengatakan bahwa dirinya punya ikatan emosional yang baik dengan masyarakat jawa. Dikatakan bupati, bahwa tenaga pendidiknya dari SD hingga S3 kebanyakan dari suku jawa, bahkan menurutnya lagi, keluarganya banyak yang telah melalukan asimilasi dengan etnis jawa.
" Itu artinya, bahwa seorang Martin Rantan sampai seperti ini karena atas peran serta orang jawa. Dan Mas Sugiarto, Sekretaris Paguyuban Jawa Ketapang ini adalah kakak ipar saya," jelas Bupati diiringi tepuk tangan hadirin.
Di sela sambutannya, Bupati mengingatkan pada hadirin bahwa di masa new normal ini yaitu cara hidup di tengah pandemi Covid -19, berdasar pada anjuran pemerintah, kita harus tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasanya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Tak lupa, Bupati juga menyampaikan bahwa menghadapi situasi politik Ketapang saat ini, karena akan terjadi kontestasi politik untuk pemilihaan kepala daerah agar menghindari hal-hal yang beraroma SARA.
Menurut Bupati, Ketapang punya histori dipimpin oleh berbagai etnis, tapi dari dulu hingga kini, tidak ada pihak yang mempersoalkannya.
" Pak Sunardi (alm) orang jawa, Pak Morkes (alm) orang melayu, Pak Henrikus dan saya orang dayak," kata Martin.
Lebih lanjut, dengan menjaga persatuan, menjaga kerukunan Ketapang bisa semakin baik. Pada masyarakat yang bersatupadulah sebuah pembangunan mudah dilanjutkan untuk menuju msyarakat yang maju dan sejahtera.
Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Ketapang Drs.H. Suprapto S yang juga merupakaan Dewan Penasihat PJKT; Wakil DPRD. Ketapang H. Suprapto, S.Pd.,M.M. ; Sekda H. Farhan, S.E.,M.Si. ; Kepala Kejaksaan Ketapang Dharma Bella Tymbaz, S.H.,M.H. ; Dandim 1203/Ketapang Letkol Kav Suntara Wisnu Budi Hidayanta, SH.M.SC.; Danlanal Ketapang Letkol Laut (P) Abdul Rajab B. A., M.Tr.Hanla ; Unsur Forkopimda, Para Kepala OPD Kabupaten Ketapang serta undangan lainnya.*
Editor : Erwin
Sumber : Humpro

